kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Izin Usaha Pertambangan Selesai 2042, Adaro Andalan (AADI) Mulai Siapkan Strategi


Sabtu, 24 Januari 2026 / 20:56 WIB
Izin Usaha Pertambangan Selesai 2042, Adaro Andalan (AADI) Mulai Siapkan Strategi
ILUSTRASI. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk AADI (Dok/AADI)


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sudah menyiapkan jurus untuk menghadapi berakhirnya Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pada 2042 mendatang. Termasuk tantangan sektor batubara yang akan berhadapan dengan target Net Zero Emmision (NZE) di tahun 2060.

Direktur AADI sekaligus Presiden Direktur PT Adaro Indonesia Priyadi mengatakan, sebagai perusahaan yang awalnya memegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang kini berubah menjadi IUPK terdapat batas kontrak yang akan dihadapi Adaro.

"Kita bermula dari pemegang PKP2B yang sekarang menjadi IUPK, kelanjutan PKP2B. Tentunya ada batas kontrak atau batas izin yang ditentukan oleh pemerintah, dimana kita sekarang menjalani perpanjangan 10 tahun pertama. Nanti kalau 10 tahun kedua diberikan, akan berakhir di 2042," ungkap Priyadi dalam Indonesia Weekend Miner by Indonesia Mining Summit di Jakarta, Sabtu (24/01/2026).

Baca Juga: Vale (INCO) Ungkap Alasan Hanya Fokus Ekspansi Smelter Nikel HPAL

Priyadi bilang, Adaro mengandalkan operation excellence atau keunggulan operasional sebagai strategi bisnis, yang juga diterapkan kepada karyawan-karyawannya.

"Tentunya karyawan-karyawan ini juga kita persiapkan. Karena apa? Induknya kan enggak boleh berhenti. Harus ada terus. Apalagi Adaro sendiri mengandalkan kekuatan operation excellence," tambahnya.

Dengan sumber daya manusia yang kompeten dan dapat berinovasi, Priyadi yakin, tekanan terhadap bisnis batubara maupun selesainya kontrak dapat diatasi.

"Jadi inilah yang kita kembangkan supaya nanti misalnya kontrak batubara kita ini berakhir, kita sudah punya sumber daya manusia yang siap untuk dikembangkan. Atau kalau memang batubara masih tekanan global di 2060 kan,  Indonesia sudah energi fosil ditiadakan. Jadi ini yang kita siapkan," jelas dia.

Priyadi juga mengakui adanya tantangan industri batubara saat ini, terutama tekanan global penggunaan energi fosil, yang berpotensi untuk menurunkan penggunaan batubara.

"Tentunya strategi yang kita lakukan, perencanaan tambang yang baik, terutama aspek seberapa stripping ratio (SR)-nya dan jarak angkutnya, ini yang kita buat sekonsisten mungkin supaya operasi kita tidak fluktuatif," jelas dia.

Baca Juga: Bulog Bidik Margin Fee 7% di 2026, Setelah Rugi Rp 550 Miliar pada 2025

Adapun untuk tahun ini importir terbesar batubara Indonesia masih berasal dari China dan India. Namun,dua negara tersebut sedang berusaha meningkatkan produksi batubara dalam negeri mereka.

"Pelanggan kita ini mainly China-India dan itu adalah produsen-produsen batubara. Inilah yang harus kita pastikan bahwa supply chain kita efisien. Maka itu kita integrasikan mulai dari tambang sampai ke delivery ke pelanggan," imbuh Priyadi.

Sebagai gambaran, pemisahan sektor bisnis dalam tubuh Adaro Indonesia sebenarnya telah dilakukan sejak akhir Desember 2024. Tepatnya saat terjadi spin-off PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang melepas anak usahanya di bidang batubara termal, PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) pada 5 Desember 2024.

AADI sebagai entitas yang fokus pada batubara termal untuk pasokan listrik, kemudian menawarkan sahamnya melalui mekanisme Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS) dan IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Disisi lain, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) berubah nama menjadi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang fokus pada hilirisasi mineral, pengembangan energi baru terbarukan (EBT), dan batubara metalurgi (coking coal).

Selanjutnya: Siap-Siap! Ini Prediksi Wilayah Cuaca Ekstrem Hingga 29 Januari dari BMKG

Menarik Dibaca: 9 Manfaat Rutin Makan Buah Pepaya bagi Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×