CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.018,33   10,53   1.04%
  • EMAS995.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Jalan terjal PGN realisasikan investasi padat modal small-scale LNG


Jumat, 27 Agustus 2021 / 21:08 WIB
Jalan terjal PGN realisasikan investasi padat modal small-scale LNG
ILUSTRASI. Infrastruktur LNG Perusahaan Gas Negara (PGN)


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gas alam cair skala kecil (ssLNG) kembali diusulkan sebagai program andalan demi membangun pasar gas baru dan meningkatkan penggunaannya di sektor kelistrikan untuk mengganti pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) yang mahal. Namun demikian, sisi keekonomian rencana konversi tersebut akan penuh rintangan.

Analis energi Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Putra Adhiguna mengatakan, pemerintah telah menugaskan Pertamina, melalui Perusahaan Gas Negara (PGN), untuk mensuplai gas ke 52 pembangkit listrik PLN dengan harga lebih rendah dibanding harga ekuivalen BBM.

Sebagai informasi, ssLNG merupakan rantai pasok LNG dalam skala lebih kecil, yang digunakan untuk mentransportasikan kurang dari 0,5 juta metrik ton LNG per tahun. 

“PGN memperkirakan investasi US$ 1,5 miliar hingga US$ 2,5 miliar diperlukan untuk mensuplai 167 miliar British Thermal Unit per Day (BBTUD) gas ke 52 pembangkit, dengan separuh dari pembangkit itu menggunakan kurang dari 2 BBTUD,” ujar Adhiguna dalam keterangan resmi yang diterima Kontan.co.id, Kamis (27/8). 

Baca Juga: PGN salurkan gas perdana ke Kilang Balongan

Rencana tersebut telah disusun selama hampir satu dekade. PLN yang sebelumnya mengambil inisiatif terdepan dalam pembentukan rantai pasok ssLNG kini bergeser ke sisi penerima, memindahkan hampir seluruh risiko proyek kepada PGN.

Rencana konversi gas itu akan menguntungkan PLN bila memang benar gas dapat diterima dengan harga murah pada pembangkit mereka.

Namun, menurut Putra, yang masih belum jelas adalah bagaimana PGN, sebuah anak perusahaan BUMN dengan kepemilikan publik yang besar, dapat bertahan dalam rencana tersebut. Biaya rantai pasok LNG dikenal cukup mahal, terlebih pada skala kecil. 

"Sebagai perusahaan distributor gas utama di Indonesia, PGN sudah mengalami tekanan berat dari imbas Covid-19 dan kebijakan harga gas. Dengan margin distribusi yang diproyeksikan menyusut dari US$ 2,2 - US$ 2,5 menjadi US$ 1,80- US$ 2,00 per juta BTU (MMBTU), tanda peringatan sudah berbunyi cukup kencang," kata Putra. 

 

 

Adapun dia menilai, persaingan pendanaan dengan proyek lain yang lebih menjanjikan cukup ketat. Pada tahun 2020, PGN mengalokasikan kurang dari US$ 14 juta untuk proyek konversi gas, dari total anggaran belanja modal sebesar US$ 300 juta. 

Rencana capex 2021 juga tidak menunjukkan keselarasan dengan tenggat waktu dua tahun yang diberikan pemerintah untuk penyelesaian konversi gas tersebut. 

Meski PGN telah berulangkali menyatakan ‘siap’ untuk menjalankan proyek konversi gas, PGN belum memberikan rencana yang jelas mengenai bagaimana investasi akan dilakukan ke depan, dan imbasnya terhadap keuangan PGN. Dengan utang sekitar US$ 2 miliar yang akan jatuh tempo tahun 2024, PGN perlu memastikan kondisi keuangannya akan tetap dalam keadaan baik

Keekonomian ssLNG bagi PGN akan dinilai dengan teliti oleh para investor. Dengan total asset sebesar US$ 7,5 miliar, volume transmisi lebih dari 1.250 BBTUD dan distribusi lebih dari 820 BBTUD tahun 2020, investor PGN akan mempertanyakan kelayakan penambahan investasi lebih dari US$ 1,5 miliar yang hanya akan menambah kapasitas sebesar 167 BBTUD.

“Ada alasan mendasar mengapa ssLNG telah lama tersangkut di meja perencanaan, kelayakan ekonomi proyek ssLNG sangatlah sulit. Investasi yang dibutuhkan per unit kapasitas bisa lebih dari dua sampai empat kali lipat besarnya investasi proyek LNG skala konvensional yang ada.” jelasnya. 

Baca Juga: Optimalkan gas bumi untuk pembangkit, Ini harapan PLN

Putra bilang, ssLNG kehilangan keuntungan skala keekonomian yang dimiliki LNG konvensional. Biaya untuk rantai pasok LNG konvensional biasanya mencapai 10-20% dari harga gas total, sementara biaya pasok ssLNG dapat mencapai 30-50% dari harga gas akhir. 

Dalam industri gas yang dikenal sangat menekankan disiplin dalam belanja investasi, investor akan memperhatikan dengan seksama sejarah investasi PGN dalam LNG, termasuk rendahnya tingkat utilisasi FSRU Lampung, dan juga sejarah perencanaan permintaan gas PLN yang kerap berubah-ubah.

Berbagai kebijakan lain telah disusun untuk menumbuhkan konsumsi gas domestik, namun sangat penting untuk memastikan kelayakan ekonomi rencana tersebut, karena manuver-manuver kebijakan pemerintah yang terjadi secara mendadak dapat dengan mudah memutarbalikkan kelayakan investasi proyek.

"PGN perlu melangkah dengan hati-hati, seiring dengan banyaknya pemangku kepentingan yang tengah mengamati dengan seksama," tandasnya. 

 

Selanjutnya: The Fed akan mengumumkan simposium tahunan, simak pergerakan IHSG pekan depan

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×