kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.085   -25,00   -0,14%
  • IDX 6.076   36,88   0,61%
  • KOMPAS100 795   6,61   0,84%
  • LQ45 603   4,49   0,75%
  • ISSI 211   1,02   0,49%
  • IDX30 341   2,08   0,61%
  • IDXHIDIV20 424   2,61   0,62%
  • IDX80 91   0,68   0,76%
  • IDXV30 116   0,44   0,38%
  • IDXQ30 109   0,59   0,54%

Kadin Optimistis Manufaktur Masih Tumbuh hingga Akhir 2026, Ini Kuncinya


Rabu, 15 Juli 2026 / 13:13 WIB
Kadin Optimistis Manufaktur Masih Tumbuh hingga Akhir 2026, Ini Kuncinya
ILUSTRASI. Permintaan domestik dan belanja pemerintah jadi penopang utama. Kadin beberkan strateginya agar manufaktur tetap tumbuh positif hingga akhir 2026 (Kemperin/Dok)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja sektor manufaktur diperkirakan membaik secara bertahap pada semester II-2026. Meski demikian, pemulihan industri dinilai masih dibayangi berbagai tantangan, mulai dari lemahnya permintaan global hingga ketidakpastian geopolitik.

Wakil Ketua Umum Koordinator (WKU) Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Saleh Husin, mengatakan, perbaikan permintaan domestik akan menjadi penopang utama industri pengolahan pada paruh kedua tahun ini.

"Permintaan domestik yang mulai pulih, didukung percepatan belanja pemerintah, investasi, serta insentif industri seperti harga gas bumi tertentu (HGBT) dan kendaraan listrik, menjadi penopang utama," ujar Saleh kepada Kontan, Rabu (15/7/2026).

Baca Juga: BPDP Pastikan Anggarannya Siap Untuk Danai Subsidi Solar Nelayan

Kendati demikian, ia mengingatkan proses pemulihan manufaktur masih berlangsung secara bertahap. Hal itu tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang masih berada di bawah level 50 dan relatif lebih rendah dibandingkan Vietnam maupun Filipina.

Menurut Saleh, terdapat lima faktor utama yang akan menentukan kinerja manufaktur hingga akhir 2026. Kelima faktor tersebut meliputi permintaan domestik, kondisi ekonomi global, stabilitas nilai tukar rupiah, biaya energi dan logistik, serta kepastian kebijakan dan investasi.

"Selama faktor-faktor tersebut tetap terjaga, sektor manufaktur diperkirakan masih mampu mempertahankan pertumbuhan positif hingga akhir tahun," katanya.

Dari sisi ekspor, Saleh menilai permintaan masih akan bergerak moderat seiring perlambatan ekonomi global dan meningkatnya ketidakpastian perdagangan internasional.

Meski begitu, peluang ekspor masih terbuka bagi sejumlah industri yang menghasilkan produk bernilai tambah. Di antaranya industri logam dasar, makanan dan minuman, kimia, serta komponen otomotif.

Baca Juga: Tren Skinification Oral Care, Biaya Rawat Gigi Indonesia Termahal Kedua di ASEAN

Ia menambahkan, upaya diversifikasi pasar ekspor dan peningkatan daya saing industri menjadi langkah penting untuk menjaga pertumbuhan ekspor manufaktur Indonesia di tengah tantangan eksternal.

"Ke depan, diversifikasi pasar ekspor dan peningkatan daya saing industri akan menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan ekspor manufaktur Indonesia," tutupnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×