kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Jumlah penumpang menurun drastis, industri transportasi maksimalkan bisnis kargo


Jumat, 19 Juni 2020 / 18:04 WIB
ILUSTRASI. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra. TRIBUNNEWS/DANY PERMANA


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo

Sebagai platform memindahkan penumpang dari satu titik ke titik lain, para pemain transportasi berpikir keras menjaga pemasukan sebagai ganti minimnya penumpang. Logistik jadi satu pilihan logis mengingat mereka memiliki armada kosong yang bisa diisi oleh barang-barang kiriman.

Garuda Indonesia kini memaksimalkan armada kosong untuk kargo. Irfan mencontohkan ketika pelanggan di Jakarta memesan oleh-oleh di Jogjakarta, ia jamin besok sore sudah sampai depan pintu rumah. "Dari dulu kami hanya fokus penumpang. Namun sekarang harus berpikir pada bisnis pengiriman barang," ujarnya.

Pun begitu dengan Pelni yang sejak 2015 mulai merintis kargo. Mau tidak mau di saat sekarang bisnis tersebut harus dimaksimalkan, apalagi setahun kemudian Pelni mulai memiliki kapal angkutan barang.

Baca Juga: Corona di Korea Selatan: 7 penumpang Korean Air dari Banglades dinyatakan positif

Blue Bird juga mengakui bahwa semenjak pandemi, mereka mulai melirik bisnis logistik dalam kota. Jika dulu taksi dipakai mengangkut penumpang, kini yang diantar adalah barang. "Bisnis ini laris manis di masa pandemi. Dan bukan hanya barang penumpang atau perorangan yang kami antar, tapi juga logistik sekelas korporat," ungkap Chief Marketing Officer Blue Bird Amelia Nasution.

Platform digital juga bisa menjadi salah satu faktor bisnis transportasi bertahan, terutama di masa depan. Pasalnya selama COVID-19 berdasarkan data Organisasi Angkutan Darat (ORGANDA), ada sekitar Rp 9 triliun potensi pemasukan angkutan darat per bulan hilang. Moda darat tersebut mencakup bus, taksi, angkot, sampai angkutan antar provinsi.

Dengan kondisi tersebut memang mau tidak mau digitalisasi harus dipercepat. ORGANDA juga mengapresiasi pemain transportasi darat yang mulai mengaplikasikan teknologi berbasis online tersebut.

"Memang ada yang tidak siap ke arah sana. Tapi ada juga yang sudah mulai melakukan. Angkot ada yang mulai menerapkan adopsi digital, seperti proses booking online. Kalau seperti taksi dan angkutan logistik sudah ada yang terdigitalisasi," tutup Ketua ORGANDA Andre Djokosoetono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×