kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45989,59   -6,37   -0.64%
  • EMAS998.000 -0,60%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Kalla Group Akan Membangun Enam Pabrik Pengolahan Nikel


Kamis, 23 Desember 2021 / 20:14 WIB
Kalla Group Akan Membangun Enam Pabrik Pengolahan Nikel
ILUSTRASI. Wapres Jusuf Kalla (kanan) bersama istri Mufidah Jusuf Kalla (kiri) melihat biografi Kalla Group.


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kalla Group melalui PT Bumi Mineral Sulawesi siap masuk ke industri baterai kendaraan elektrik dengan membangun smelter di Luwu Industrial Park. Smelter itu beridi di lokasi strategis, di kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan yang dekat dengan sumber mineral bijih nikel. 

Adapun pada 21 Desember 2021 yang lalu, Bumi Mineral Sulawesi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pohang Iron and Steel Company (POSCO). Perusahaan asal Korea Selatan ini yang akan menjadi offtaker seluruh produk dari nickel sulphate yang dihasilkan smelter Bumi Mineral Sulawesi. 

Direktur Utama Bumi Mineral Sulawesi, Afifuddin Suhaeli Kalla mengatakan alasan pihaknya masuk ke bisnis smelter karena melihat cadangan nikel dunia 24% berada di Indonesia dan mayoritas di Sulawesi. 

"Tentu kami sebagai putera daerah Sulawesi juga ingin masuk ke dalam pemurnian nikel ini karena kami melihat sudah banyak smelter yang hadir di Sulawesi tapi rata-rata asing," ujar Afifuddin kepada Kontan.co.id, Kamis (23/12). 

Baca Juga: Kejar Target Penyelesaian Smelter, Amman Mineral Berharap Mendapat Insentif

Afifuddin melihat bisnis smelter spesial karena kebutuhan dunia ke depan terhadap nikel semakin bertambah. Dia memproyeksikan puncak peningkatan permintaan akan terjadi di 2030, yakni permintaan nikel untuk baterai. "Makanya kami melihat peluang itu untuk dijajaki kami ingin berperan dalam bisnis tersebut," tegasnya. 

Proyek smelter ini terbagi atas dua tahap. Tahap pertama terdiri dari 2 pabrik dengan kapasitas masing-masing 34.000 MT per tahun. Pabrik pertama sudah dibangun sejak 2019. Namun karena terhambat pandemi, Bumi Mineral baru melanjutkan pembangunan di tahun ini. Afifuddin memproyeksikan satu tahun lagi dari sekarang pabrik pertama akan COD.

Kemudian pabrik kedua, diproyeksikan akan COD dua tahun lagi. "Untuk pembangunan tahap pertama kami mengalokasikan dana US$ 250 juta," kata Afifuddin. 

Baca Juga: Konglomerat Ramai-Ramai Masuk Bisnis Smelter, Apa Motifnya?

Lantas untuk tahap kedua, Afifuddin bilang, pihaknya akan membangun empat pabrik. Dia mengungkapkan, ada kemungkinan pihak POSCO akan ikut ambil bagian dalam pembangunan salah satu pabrik di tahap kedua atau ikut membenamkan investasi. 

Asal tahu saja, POSCO Chemical memiliki teknologi yang dapat mengolah nikel sulfat menjadi precursor lalu menjadi material katoda. Makanya, Afifuddin berharap, POSCO dapat bersama membangun  pabrik precursor dan katoda di Luwu Industrial Park.

"Kalau sekarang nikel sulfat yang dihasilkan akan diekspor untuk diolah lebih lanjut. Sedangkan kami maunya bikin di Indonesia semua aja. Kami mendukung program pemerintah untuk hilirisasi mineral tetapi jangan barang setengah jadi diekspor kalo bisa jadi barang jadi," pungkas dia. 

Baca Juga: Kalla Group Gaet POSCO Untuk Perkuat Pengembangan Industri Baterai di Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×