Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingginya kasus kanker di Indonesia masih menjadi tantangan besar bagi sektor kesehatan nasional. Di tengah keterbatasan kapasitas layanan onkologi, kebutuhan terhadap penguatan kompetensi tenaga kesehatan, pemanfaatan teknologi medis, serta kolaborasi lintas disiplin menjadi semakin penting guna meningkatkan kualitas penanganan kanker di Tanah Air.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) 2022, Indonesia mencatat lebih dari 408.000 kasus kanker baru dengan angka kematian mencapai lebih dari 242.000 kasus per tahun.
Di sisi lain, jumlah fasilitas radioterapi di Indonesia masih terbatas, yakni kurang dari 80 fasilitas untuk melayani lebih dari 275 juta penduduk. Ketimpangan akses terhadap layanan kanker modern dan keterbatasan tenaga spesialis onkologi juga masih menjadi tantangan, terutama di luar kota besar.
Kondisi tersebut mendorong perlunya pengembangan layanan kanker berbasis teknologi dan evidence terkini. Mulai precision oncology, genomic profiling, hingga pendekatan terapi yang lebih personal.
Dalam upaya mendukung pengembangan layanan onkologi tersebut, MRCCC Siloam Semanggi menggelar The 6th Siloam Oncology Summit 2026 pada 22–24 Mei 2026.
Siloam Oncology Summit 2026 menghadirkan lebih dari 100 pembicara nasional dan internasional serta diikuti lebih dari 700 tenaga kesehatan. Keterlibatan berbagai profesi tersebut mencerminkan pentingnya koordinasi lintas disiplin dalam menghadirkan penanganan kanker yang lebih terintegrasi dan sesuai kebutuhan individual pasien.
Baca Juga: Blackout Sumatra Ganggu Industri, Kadin Ungkap Sektor Paling Terpukul
Chief Executive Officer Siloam International Hospitals, Caroline Riady mengatakan, kualitas layanan kanker tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan fasilitas, tetapi juga kesiapan tenaga kesehatan.
“Siloam International Hospitals percaya bahwa kualitas layanan kanker tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan fasilitas, tetapi juga oleh kesiapan dan kompetensi tenaga kesehatannya," ujarnya, Sabtu (23/5). Piihaknya ingin mendorong standar penanganan kanker yang lebih maju agar pasien di Indonesia dan Asia Tenggara dapat memperoleh layanan kanker berstandar internasional.
Sementara itu, Direktur Eksekutif MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan mengatakan, perkembangan ilmu onkologi, termasuk precision oncology, menuntut kesiapan tenaga kesehatan dalam memahami pendekatan terapi yang semakin personal, berbasis biomarker, serta didukung teknologi diagnostik yang terus berkembang.
“Pengembangan layanan kanker yang berkualitas membutuhkan pembelajaran berkelanjutan, adopsi teknologi, dan sinergi berbagai disiplin ilmu agar penanganan kanker di Indonesia dapat terus berkembang,” katanya.
Perkembangan terapi kanker modern kini tidak hanya berfokus pada peningkatan survival pasien, tetapi juga kualitas hidup melalui pendekatan terapi yang lebih personal dan minim efek samping.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













