kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.941   23,00   0,13%
  • IDX 5.936   -157,61   -2,59%
  • KOMPAS100 766   -19,95   -2,54%
  • LQ45 591   -10,76   -1,79%
  • ISSI 206   -6,62   -3,11%
  • IDX30 330   -4,72   -1,41%
  • IDXHIDIV20 423   -4,31   -1,01%
  • IDX80 88   -2,12   -2,37%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,74%
  • IDXQ30 108   -1,04   -0,95%

Kata para pengamat perihal merger Gojek-Tokopedia menjadi GoTo


Senin, 17 Mei 2021 / 20:41 WIB
ILUSTRASI. Gojek dan Tokopedia resmi mengumumkan pembentukan Grup GoTo


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Yudho Winarto

Dampak dari merger ini, sambung Huda, adalah semakin mengerucutkan persaingan di industri ekonomi digital Indonesia menjadi tiga poros. Ketiganya adalah Group GoTo, SEA Group, dan Grab-Ovo-Emtek.

Penguasaan pasar akan menjadi isu utama, sehingga pemain selain ketiga grup itu akan semakin sulit untuk masuk dan menjadi pesaing utama.

Baca Juga: Tokopedia-Gojek merger, OVO masih berkomitmen jadi metode pembayaran di Tokopedia

Apalagi, GoTo memiliki prospek yang cerah untuk meraih pendanaan lewat  bursa saham dengan Initial Oublic Offering (IPO).

"Jika GoTo sudah IPO maka praktis GoTo, SEA Group, dan Grab sudah mendapatkan pendanaan dari pasar yang akan semakin sulit dikejar oleh pesaingnya dalam hal pendanaan," tutur Huda.

Mengenai IPO, Doni Ismanto mengingatkan bahwa pemilihan lokasi bursa mesti dipertimbangkan. Menurutnya, berdasarkan startup yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia (IDX), investor masih perlu penyesuaian untuk menerima model bisnis e-commerce atau on demand seperti Gojek dan Tokopedia.

"Saya rasa keduanya kalau IPO memilih bursa yang bisa menerima model bisnis mereka seperti di AS. Kalau di sana sudah terbiasa dengan model valuasi yang mereka tawarkan," pungkas Doni.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×