kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.910   40,00   0,22%
  • IDX 5.662   -158,96   -2,73%
  • KOMPAS100 731   -21,13   -2,81%
  • LQ45 557   -15,85   -2,77%
  • ISSI 196   -4,87   -2,42%
  • IDX30 317   -8,35   -2,57%
  • IDXHIDIV20 392   -9,38   -2,34%
  • IDX80 83   -2,44   -2,85%
  • IDXV30 106   -1,97   -1,82%
  • IDXQ30 103   -2,28   -2,17%

Kebutuhan gula industri diperkirakan defisit 5%


Selasa, 19 Juli 2016 / 17:50 WIB


Reporter: Pamela Sarnia | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Kementerian Perindustrian akan memantau kekurangan gula bagi industri. Tindakan ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan impor gula mentah (raw sugar) yang sebelumnya direncanakan pada kuartal IV-2016.

Direktur Jenderal Industri Agro Panggah Susanto Kemperin memprediksi, kekurangan untuk industri makanan dan minuman nasional sekitar 5%. "Kelangkaan ini mengkhawatirkan, karena harga gula bisa jadi sangat tinggi," ujar Panggah di Gedung Kementerian Perindustrian, Selasa (19/7).

Meski demikian, ia menyebut, pemenuhan kekurangan itu sebaiknya tidak terburu-buru dilakukan meski sejumlah pihak mendesak pemenuhannya dipercepat menjadi kuartal III-2016. "Masih ada waktu. Kami akan lakukan survei dahulu bersama Gabungan Pengusahan Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI)," kata Panggah.

Selain soal kebutuhan gula, pemilihan negara pengimpor gula perlu dipertimbangkan. Kondisinya, saat ini, Thailand sedang mengalami kesulitan produksi gula akibat La Nina dan musim hujan. "Harganya jadi lebih mahal. Sehingga sekarang mau tidak mau harus ambil dari Brasil," tuturnya.

Jika memilih mengimpor dari Brazil, perlu diwaspadai soal keterlambatan yang mungkit terjadi akibat jaraknya yang lebih jauh dibandingkan Thailand. "Dari segi jarak, kalau dari Thailand butuh waktu semingu, kalau dari Brasil bisa 40 hari," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×