Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kinerja impor Indonesia meningkat 2,03% secara tahunan (YoY) ke level US$ 218,02 miliar pada Januari–November 2025.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, peningkatan ini disebabkan oleh impor nonmigas yang naik 4,37% menjadi US$ 188,61 miliar dari periode sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 180,71 miliar.
Ia mengatakan, beberapa komoditas impor nonmigas dengan peningkatan tertinggi, antara lain, garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) sebesar 70,89%; kakao dan olahannya (HS 18) sebanyak 54,53%; serta berbagai produk kimia (HS 38) yang tumbuh 36,12% secara tahunan.
Baca Juga: Kemendag Sebut Empat Perjanjian Dagang Bisa Dorong Kinerja Ekspor pada 2026
Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia pada Januari–November 2025 didominasi Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat (AS) dengan kontribusi gabungan mencapai 52,87% terhadap total impor nonmigas.
Sementara itu, lanjut Budi, negara asal impor dengan kenaikan tertinggi dibanding Januari–November 2024 adalah Meksiko yang tumbuh 234,22%, Uni Emirat Arab naik 74,86%, dan Spanyol meningkat 38,32%.
Selain itu, struktur impor Januari–November 2025 masih didominasi bahan baku atau penolong dengan pangsa 70,27%, diikuti barang modal 20,55% dan barang konsumsi 9,18%.
Dibanding Januari–November 2024, impor barang modal naik 18,54%, sedangkan impor barang konsumsi turun 2,02%, dan bahan baku atau penolong turun 1,46%.
Baca Juga: Kemendag: Importir Taiwan Borong Sabun Batang Indonesia Senilai Rp 5 Miliar pada 2025
“Kenaikan impor barang modal yang mencapai 18,54% turut disebabkan naiknya impor central processing unit (CPU), ponsel pintar, mobil listrik (selain completely knocked down/CKD), dan base station,” ujar Budi dalam keterangan resmi, Selasa (6/1/2026).
Ia melanjutkan, impor produk bahan baku atau penolong dengan penurunan terdalam pada Januari–November 2025 ialah bahan bakar minyak, gula tebu, kacang kedelai, bungkil untuk pakan ternak, dan polipropilena.
Di sisi lain, impor barang konsumsi mengalami penurunan, terutama untuk mesin pengatur suhu udara, bawang putih, mobil listrik (CKD), non-dairy creamer, dan obat-obatan.
Selanjutnya: Menhaj Sebut Kompleks Haji di Mekkah Baru Bisa Digunakan pada Tahun 2028
Menarik Dibaca: Memilih Hunian Nyaman, Ini Tips Praktis Sebelum Membeli Rumah dari Park Serpong
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













