Reporter: Zendy Pradana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI mengatakan bahwa Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita saat ini terbilang masih dalam kondisi yang realistis. Sejumlah barang kebutuhan pokok (bapok) saat ini juga tidak mengalami permasalahan.
Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Susanto menyebut dirinya sudah melakukan peninjauan ke beberapa daerah. Menurutnya, sejumlah kebutuhan pokok masih normal.
"Kemarin saya ke mana itu, Sulawesi, kemudian saya ke Pidie, Pidie Sigli Aceh, ya kemudian ke Tebing Tinggi Sumatra. Jadi Pidie sama Tebing Tinggi ini adalah wilayah yang terdampak banjir ya, tetapi kami lihat kemarin harganya bagus, normal semua ya, pasokan juga nggak ada masalah. Kemarin yang di Makassar itu juga begitu, harga bagus-bagus semua ya," ujar Budi Susanto di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026).
Budi menyebut bahkan harga eceran tertinggi (HET) MinyaKita masih realistis. "Masih realistis (Soal HET)," ucapnya.
Baca Juga: Governance Reset, Danantara Audit Ulang Aset dan Laporan Keuangan BUMN
Kemudian, Budi Susanto juga menjelaskan bahwa belum ada dampak signifikan dengan adanya perang Timur Tengah (Timteng) terhadap belanja dalam negeri.
"Kalau kita ngomongin dampak perang sebenarnya nggak mengganggu kita di dalam negeri, apalagi kan kalau kita kontribusi terhadap PDB itu kan sebenarnya apa namanya, belanja dalam negeri yang paling besar," kata Budi Susanto.
"Nah itu terus harus kita jaga momentum itu sehingga tidak banyak terganggu nanti dari apa namanya perang ini," sambungnya.
Sementara itu, Kabiro Humas Kemendag RI, Kusuma Dewi memberikan pandangan yang sama soal HET MinyaKita. Menurutnya HET MinyaKita masih berlaku Rp15.700.
"HET Migor sampai dengan Lebaran ini masih berlaku sesuai yang ada sekarang yaitu Rp15.700," kata Kusuma Dewi.
Baca Juga: Pedagang Kaki Lima Mengeluh Terkait Ekspansi Alfamart-Indomaret, Ini Kata Mendag
Kusuma Dewi menyebut, HET MinyaKita saat ini masih realistis, tujuannya agar masyarakat masih bisa membeli kebutuhan pokok saat momen Lebaran 2026.
"Kami masih melihat kondisi saat ini dengan tujuan memastikan masyarakat dapat membeli kebutuhan pokok termasuk migor," bebernya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













