Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melanjutkan upaya kolaborasi untuk membuka peluang bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM) menjadi pemasok (supplier) pasar ritel dan industri besar.
Upaya terbaru dilakukan Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) dengan menggandeng Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo).
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti pentingnya dukungan kepada IKM untuk mendapatkan kepastian pasar yang berkelanjutan. Hal ini juga selaras dengan program Kemenperin terkait Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia dan Gerakan Beli Produk Dalam Negeri.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemenperin telah menyelenggarakan Temu Bisnis (Business Matching) sektor IKM Pangan dan Barang Gunaan dengan Hippindo.
"Ini bagian dari gerakan mendorong penggunaan produk dalam negeri, serta meningkatkan kapasitas dan daya saing IKM sehingga mampu naik kelas dan memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan industri nasional,” ungkap Menperin dalam rilis yang disiarkan pada Rabu (17/12/2025).
Baca Juga: Kontrak Baru Adhi Karya (ADHI) Melonjak di November 2025, Dominasi Proyek Gedung
Menperin menyampaikan bahwa IKM membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat sebagai tulang punggung industri nasional. Kemenperin melalui Direktorat Jenderal IKMA melaksanakan berbagai program pembinaan berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing IKM.
Program tersebut mencakup promosi dalam rangka perluasan pasar melalui kepesertaan pada pameran dalam negeri, marketplace lokal dan marketplace global, serta kemitraan IKM binaan dengan industri besar sektor ekonomi lainnya.
Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita menjelaskan kegiatan Business Matching merupakan upaya penguatan kemitraan IKM dengan ritel yang selaras dengan Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian. UU itu mengamanatkan pembangunan industri harus dilaksanakan secara berkeadilan, inklusif, dan berpihak pada penguatan industri kecil serta penciptaan kemitraan yang saling menguntungkan dalam rantai pasok nasional.
Pada kegiatan kemitraan tahun ini, Ditjen IKMA melibatkan sebanyak 53 IKM pangan sebagai peserta Business Matching dengan Hippindo. Reni menambahkan, kemitraan untuk industri pangan dipilih karena dari seluruh sub sektor Industri Pengolahan Non-Migas (IPNM), industri pangan menyumbang 37,87% dari nilai tambah IPNM atau 7,08% dari total PDB nasional pada triwulan III-2025.
Lebih spesifik, IKM pangan memegang peran penting dengan jumlahnya sebesar 2,07 juta unit usaha dan menyerap tenaga kerja mencapai 4,56 juta orang. Reni mengungkapkan, kolaborasi antara Kemenperin dan Hippindo bukanlah yang pertama kali dilakukan.
Pada tahun lalu, Ditjen IKMA dan Hippindo melaksanakan Business Matching IKM Pangan dan Furnitur. Menurut Reni, Business Matching tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi ritel dan IKM memiliki potensi yang sangat besar untuk terus dikembangkan.
“Kegiatan tersebut menghasilkan nilai transaksi potensial lebih dari Rp 40 miliar, disertai beragam tindak lanjut seperti permintaan sampel, uji produk, negosiasi harga, hingga permohonan white label. Ini menunjukkan bahwa ritel modern memiliki kebutuhan produk dalam negeri yang sangat tinggi dan IKM mampu memenuhinya ketika mendapatkan pendampingan yang tepat,” kata Reni.
Baca Juga: Sari Kreasi Boga (RAFI) Percepat Transformasi Jadi Perusahaan Agrifood Terintegrasi
Meski begitu, Reni mengakui dalam pelaksanaan kemitraan ini masih terdapat tantangan berupa IKM yang terkendala administratif, penyesuaian margin dengan skema pembelian ritel, hingga kebutuhan penyesuaian kemasan untuk standar rak dan private label. Tantangan tersebut menjadi evaluasi bagi Ditjen IKMA untuk memperkuat sistem pembinaan.
Termasuk meningkatkan pendampingan teknis, membantu kesiapan legal dan dokumen usaha, serta mendukung perbaikan kualitas kemasan dan proses produksi. “Sebagai tindak lanjut, Ditjen IKMA dan Hippindo telah menyepakati penguatan pembinaan, mulai dari pendampingan hingga kurasi IKM yang lebih tepat sasaran,” ungkap Reni.
Reni melanjutkan, sektor ritel memegang peranan strategis sebagai penghubung antara produsen dan konsumen, serta motor penggerak pertumbuhan produk dalam negeri.
Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia mencatat pada September 2025 Indeks Penjualan Riil tumbuh 5,8% (yoy) meningkat dari 3,5% pada bulan sebelumnya, terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, tembakau, dan perlengkapan rumah tangga.
Kinerja tersebut diperkuat oleh struktur demografi Indonesia dengan kelas menengah berdaya beli, serta generasi milenial dan Gen Z yang memiliki pola konsumsi modern, melek digital, dan semakin berpihak pada produk lokal.
“Kondisi tersebut menjadikan ritel modern sebagai jalur penting bagi IKM untuk memperluas pasar,” tambah Reni.
Di sisi lain, penataan pusat perbelanjaan dan toko modern yang telah diatur oleh pemerintah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2021. Beleid ini mewajibkan kerja sama pasokan barang dengan UMKM serta penyediaan ruang usaha yang representatif dan mudah diakses, yaitu setidaknya 30% dari total area pusat perbelanjaan untuk produk dalam negeri.
Menimbang potensi tersebut, penguatan rantai pasok perlu dilakukan melalui kemitraan erat antara IKM, jaringan ritel, distributor, dan pelaku logistik. Reni meyakini kolaborasi ini akan melahirkan IKM yang semakin tangguh, inovatif, dan kompetitif di pasar domestik maupun global.
Baca Juga: Golden Flower (POLU) Diversifikasi Pasar Lokal Saat Tarif Impor AS Dikerek
"Pada akhirnya kemitraan yang sehat dan berkelanjutan akan menciptakan kepastian pasar, mendorong transfer teknologi, meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi, memperbaiki manajemen, serta membuka akses pembiayaan, sekaligus membantu ritel memenuhi komitmen memperdagangkan minimal 80% produk dalam negeri,” kata Reni.
Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, mengatakan bahwa forum Business Matching ini memiliki peran strategis bagi berbagai pihak, karena mempertemukan langsung IKM sebagai produsen dengan ritel sebagai pasar.
Menurut Budihardjo, kegiatan ini merupakan momentum krusial agar produk IKM tidak hanya berfokus pada aspek produksi, tetapi juga mampu masuk ke dalam rantai pasok ritel dan Food & Beverage (F&B).
“Melalui Temu Bisnis IKM ini, kami harap dapat menjadi tindak lanjut yang konkret, mulai dari uji produk, listing, hingga kerja sama komersial jangka panjang antara IKM dan pelaku ritel serta F&B,” tandas Budihardjo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













