kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.827.000   -10.000   -0,35%
  • USD/IDR 17.049   32,00   0,19%
  • IDX 7.048   -43,45   -0,61%
  • KOMPAS100 972   -4,90   -0,50%
  • LQ45 716   -1,68   -0,23%
  • ISSI 251   -1,25   -0,50%
  • IDX30 389   -0,10   -0,03%
  • IDXHIDIV20 487   -1,85   -0,38%
  • IDX80 110   -0,59   -0,54%
  • IDXV30 135   -0,95   -0,70%
  • IDXQ30 127   0,03   0,02%

Kemenperin: IKI Turun 2,16 Poin ke 51,86 pada Maret 2026, Tujuh Industri Terkontraksi


Selasa, 31 Maret 2026 / 18:55 WIB
Kemenperin: IKI Turun 2,16 Poin ke 51,86 pada Maret 2026, Tujuh Industri Terkontraksi
ILUSTRASI. Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif. (Dok/Kemenperin)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) merilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Maret 2026 berada di posisi 51,86. Meski masih berada di zona ekspansi, tapi nilai IKI bulan ini mengalami penurunan 2,16 poin dibandingkan Februari 2026, yang saat itu berada di level 54,02.

Secara tahunan, laju IKI mengalami perlambatan dengan penurunan 1,12 poin dibandingkan Maret 2025 yang kala itu tercatat sebesar 52,98. Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif menjelaskan bahwa dari tiga variabel pembentuk IKI, hanya persediaan produk yang secara bulanan mengalami peningkatan sebesar 1,22 poin menjadi 51,47 pada Maret 2026.

Dua variabel lainnya, yakni pesanan baru, secara bulanan anjlok 3,14 poin ke posisi 52,20. Sementara variabel produksi turun 2,80 poin menjadi 51,55. Dari sisi orientasi pasar, IKI Ekspor melambat 1,88 poin ke 52,73. Sedangkan IKI Domestik menukik 2,68 poin menjadi 50,44 pada Maret 2026.

Berdasarkan analisis terhadap 23 sub sektor industri manufaktur, sebanyak 16 sub sektor mengalami ekspansi pada bulan ini. Sub sektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman (KBLI 18) dan Industri Kendaraan Bermotor, Trailer, dan Semitrailer (KBLI 29). 

Sementara itu, tujuh sub sektor yang mengalami kontraksi, yakni Industri Minuman (KBLI 11), Industri Pengolahan Tembakau (KBLI 12), Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus (tidak termasuk furnitur) serta Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya (KBLI 16), Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia (KBLI 20), Industri Barang Galian Bukan Logam (KBLI 23), Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik (KBLI 26), dan Industri Peralatan Listrik (KBLI 27).

Baca Juga: Pelaku Industri Masih Wait and See, IKI Desember 2025 Melambat ke Level 51,90

Febri mengungkapkan bahwa penurunan IKI pada bulan Maret 2026 disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor. Febri menyoroti sebab utamanya adalah faktor musiman, karena periode hari besar keagamaan terutama Ramadan dan Lebaran Idul Fitri telah berlalu.

Hal ini menyebabkan pelaku industri melakukan penyesuaian produksi dengan mempertimbangkan stok barang serta proyeksi permintaan pasca lebaran. Sebelumnya, pelaku industri telah memacu aktivitas produksi pada bulan Januari dan Februari 2026.

Dari sisi distribusi, pembatasan angkutan barang dengan rentang waktu yang cukup panjang pada periode mudik lebaran turut memengaruhi kinerja sejumlah industri. "Kami memperoleh informasi beberapa industri menurunkan produksi pada Maret dibandingkan Januari - Februari karena masih banyak stok barang di gudang dan belum terdistribusi ke pasar karena ada pembatasan kendaraan logistik," ungkap Febri dalam konferensi pers pada Selasa (31/3/2026).

Di samping faktor musiman di dalam negeri, Febri turut menyoroti faktor eksternal, terutama dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Hanya saja, Febri mengatakan bahwa dampak gejolak Timur Tengah untuk survei IKI bulan Maret 2026 masih relatif terbatas pada sub sektor tertentu seperti industri petrokimia.

Antisipasi Dampak Gejolak Timur Tengah

Meski begitu, Febri menegaskan bahwa gangguan di industri hulu seperti petrokimia akan berdampak terhadap berbagai industri hilir pengguna produk akhir. Febri mencontohkan tekanan yang sedang dialami oleh industri plastik berdampak terhadap pasokan dan harga kemasan di industri makanan dan minuman, maupun di industri pengguna plastik seperti otomotif.

Baca Juga: Kemenperin: Indeks Kepercayaan Industri Februari 2026 Turun 0,10 Poin Jadi 54,02

Febri menegaskan bahwa sampai saat ini industri hulu masih berproduksi dengan menggunakan persediaan bahan baku yang ada. Hanya saja, telah terjadi penyesuaian di pasar yang antara lain dilakukan melalui kenaikan harga produk.

Selain soal bahan baku, Febri mengingatkan bahwa gejolak geopolitik ini berdampak terhadap krisis logistik energi serta kenaikan biaya logistik untuk impor bahan baku maupun ekspor produk. Jika kondisi ini terus berlanjut, Febri mengatakan dampaknya akan menekan kinerja IKI maupun Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur pada bulan-bulan berikutnya.

Menghadapi situasi ini, Kemenperin mengimbau agar para pelaku industri untuk melakukan efisiensi penggunaan energi. "Kami berharap industri segera beradaptasi dalam melakukan efisiensi penggunaan energi dan mengantisipasi kenaikan biaya logistik," ujar Febri.

Di samping itu, Febri juga menyoroti posisi nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat. Febri mengimbau agar pelaku industri yang mengimpor bahan baku menggunakan fasilitas Local Currency Transaction (LCT) dari Bank Indonesia guna meredam dampak bagi tekanan kurs.

Baca Juga: Industri Tekstil Masih Kontraksi, IKI November 2025 Menyusut 0,05 Poin Jadi 53,45

Febri menambahkan, pemerintah akan berupaya mendukung industri dalam negeri. Salah satunya dengan menjaga permintaan (demand) produk industri di pasar domestik. "Kemenperin akan bekerjasama dengan Kementerian lain, terutama agar demand domestik produk industri itu bisa dilindungi dari banjir produk impor," tegas Febri.

Pemerintah juga terus memonitor konsumsi rumah tangga, yang akan turut berdampak terhadap demand produk industri manufaktur. Menurut Febri, berbagai program pemerintah di bidang ketahanan energi, ketahanan pangan, serta program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan Program 3 Juta Rumah, merupakan bagian dari upaya menjaga demand produk manufaktur di dalam negeri.

Pemerintah pun akan terus mendorong program substitusi impor melalui penguatan rantai pasok industri dalam negeri yang mengandalkan bahan baku lokal. "Kami yakin bahwa industri berdasarkan pengalaman dari berbagai krisis sebelumnya seperti pandemi covid-19 sudah memiliki lesson learned yang baik untuk menghadapi krisis dan tantangan yang cukup kuat di depan," tutup Febri.

Baca Juga: IKI Oktober 2025 Capai 53,50, Hanya Industri Tekstil yang Kontraksi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×