kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.135   100,00   0,55%
  • IDX 5.912   39,07   0,67%
  • KOMPAS100 769   5,82   0,76%
  • LQ45 587   4,49   0,77%
  • ISSI 203   0,67   0,33%
  • IDX30 333   2,19   0,66%
  • IDXHIDIV20 411   0,93   0,23%
  • IDX80 88   0,82   0,94%
  • IDXV30 111   0,16   0,14%
  • IDXQ30 107   0,26   0,24%

Produsen Elektronik Tak Otomatis Raih Untung dari Cuaca Panas pada Semester II-2026


Kamis, 09 Juli 2026 / 18:20 WIB
Produsen Elektronik Tak Otomatis Raih Untung dari Cuaca Panas pada Semester II-2026
ILUSTRASI. Sharp Gelar Penjualan Produk AC dan Pengatur Udara Terbaru (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cuaca panas dan potensi El Nino pada tahun ini dinilai tak cukup kuat menjadi pendongkrak penjualan produk pendingin seperti air conditioner (AC) bagi produsen elektronik. Sebab, masih ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi para pelaku usaha hingga akhir tahun ini.

Senior General Manager National Sales Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo menjelaskan bahwa faktor cuaca saat ini memang mengerek permintaan beberapa kategori produk pendingin, khususnya AC.

"Ketika suhu udara meningkat dalam periode yang cukup panjang, biasanya terjadi peningkatan minat konsumen terhadap produk-produk yang memberikan kenyamanan di dalam rumah," jelas Andry saat dihubungi Kontan, Kamis (9/7/2026),

Namun demikian, ia menyoroti bahwa keputusan pembelian konsumen saat ini tak hanya dipengaruhi oleh cuaca.

Saat ini, Sharp mencermati fokus pertimbangan konsumen juga lebih ke aspek harga, kebutuhan listrik, kualitas produk, layanan purna jual, hingga program promosi yang ditawarkan oleh produsen. 

Baca Juga: Puncak Musim Kemarau Dorong Penjualan AC, Sharp Pasang Target Segini

Belum lagi, lanjut Andry, industri perabot rumah tangga elektronik (home appliances) masih menghadapi tantangan yang meliputi fluktuasi nilai tukar, harga bahan baku, hingga daya beli masyarakat. Persaingan industri kini juga disebut semakin ketat. 

"Karena itu, kualitas layanan, produk, sampai kedekatan dengan konsumen menjadi sejumlah faktor yang perlu terus dijaga," jelas dia.

Menyiasatinya, Sharp berupaya untuk menggenjot efisiensi di seluruh rantai bisnis agar tetap memberikan produk dengan harga yang lebih kompetitif.

Meskipun memang, dari sisi harga jual, Andry tak memungkiri pihaknya telah melakukan sejumlah penyesuaian harga sebagai imbas dari kondisi pasar dan kompetisi bisnis.

"Tujuan kami menjaga keseimbangan antara daya saing produk dan kualitas yang diterima konsumen," terangnya.

Hal yang sama disampaikan produsen elektronik Tanah Air, Polytron. Commercial Director Polytron Tekno Wibowo mengungkap, konsumen masih cenderung menahan pembelian produk elektronik termasuk AC saat ini, walaupun faktor cuaca seharusnya bisa jadi angin segar.

"Meskipun El Nino memberi dampak peningkatan permintaan AC, tetap faktor harga menjadi batu sandungan bagi konsumen untuk melakukan pembelian," jelasnya kepada Kontan, dihubungi terpisah, Kamis (9/7/2026).

Baca Juga: Pasar AC Indonesia Makin Kompetitif, Teknologi dan Efisiensi Energi Jadi Andalan

Tekno menambahkan, sejak awal tahun Polytron sendiri telah mengerek harga jual produk home appliances secara bertahap hingga 15%.

Langkah ini menurutnya merupakan imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga minyak global yang mendongkrak harga bahan baku, serta dinamika kondisi domestik yang tak menentu.

Sebagai strategi adaptasi, Polytron juga mulai mengurangi jumlah produk kurang laku dan merampingkan lini produk guna meningkatkan efisiensi biaya.

Produsen home appliances lainnya, Modena, turut mencermati kenaikan harga bahan baku imbas kelangkaan chip yang menjadi tantangan bagi industri.

Namun, Vice President Modena, Teddy Wijaya mengatakan bahwa perusahaan telah mengantisipasi isu tersebut sejak awal tahun.

Sebagai strategi, Modena mengoptimalkan platform-platform baru yang lebih kompetitif dari sisi harga untuk menyiasati ketergantungan pada komponen yang langka.

Sekitar tiga bulan lalu, kata Teddy, pihaknya mengembangkan printed circuit board (PCB) semikonduktor dengan biaya yang lebih terjangkau.

"Dengan begitu, mungkin akan ada trade-off antara harga chip di pasar dengan efisiensi melalui PCB. Hasilnya kalau digabungkan total cost-nya dapat ditekan, dari sisi kenaikan harga juga kami bisa mitigasi," jelasnya kepada Kontan dalam temu media di Tangerang, Kamis (9/7/2026).

Teddy melanjutkan, alih-alih mengerek harga, strategi Modena difokuskan kepada pemberian nilai tambah bagi pelanggan melalui fasilitas layanan.

Dia mencontohkan, Modena menghadirkan program one plus one bagi pelanggan. Di mana, konsumen yang melakukan pembelian produk kedua dari Modena akan mendapatkan keuntungan berupa fasilitas pengecekan gratis untuk produk Modena pertama mereka. 

"Strategi ini dilakukan karena customer juga sekarang semakin cermat menghitung, sebenarnya dengan kenaikan harga yang terjadi di hampir semua brand, benefit apa yang akan mereka dapatkan," imbuh Teddy.

Baca Juga: Panasonic Andalkan AC Hemat Energi untuk Garap Segmen Rumah Tangga Menengah Atas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×