Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mempercepat transformasi bisnis dari hulu hingga hilir dengan mengandalkan dua mesin pertumbuhan baru, yakni pengembangan bahan baku obat (BBO) lokal dan ekspansi layanan kesehatan bagi lansia.
Perbaikan kinerja keuangan pada kuartal I-2026 menjadi modal bagi perseroan untuk melanjutkan transformasi jangka panjang.
KAEF membukukan laba kotor Rp 824,8 miliar atau tumbuh 11,06% secara tahunan. EBITDA melonjak 61,29% menjadi Rp 153,8 miliar, sementara laba bersih mencapai Rp 123,6 miliar.
Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, mengatakan hasil tersebut menunjukkan restrukturisasi keuangan dan transformasi model bisnis yang dijalankan dalam dua tahun terakhir mulai membuahkan hasil.
Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Bidik Pasar Lansia, Begini Prospeknya Menurut Analis
"Pencapaian di awal tahun ini membuktikan bahwa restrukturisasi keuangan yang dijalankan sejak dua tahun lalu serta transformasi model bisnis yang lebih ramping dan efisien berjalan di jalur yang tepat," ujarnya dalam siaran pers, Minggu (28/6/2026).
Di sisi hulu, Kimia Farma memperkuat ketahanan industri farmasi nasional melalui pengembangan BBO lokal.
Melalui anak usaha PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP), perusahaan telah memiliki 19 jenis BBO yang mengantongi sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM. Sebanyak 18 di antaranya juga telah bersertifikat halal.
BBO yang diproduksi mencakup terapi prioritas seperti obat kardiovaskular, antibiotik, dan antiretroviral untuk HIV.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan industri farmasi nasional terhadap impor bahan baku yang saat ini masih mencapai sekitar 95%.
Di sektor hilir, KAEF melihat potensi besar dari pertumbuhan populasi lansia. Seiring proyeksi peningkatan porsi penduduk lanjut usia hingga 20% pada 2045, perseroan mengembangkan ekosistem layanan Senior Care atau Healthy Ageing yang terintegrasi.
Baca Juga: Kinerja Solid, Kimia Farma (KAEF) Bukukan Laba Rp 123 Miliar di Kuartal I-2026
Strategi tersebut diwujudkan melalui optimalisasi jaringan apotek dan klinik Kimia Farma untuk menyediakan obat penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, suplemen preventif, serta layanan pemantauan kesehatan berkala yang ramah lansia.
Segmen ini dipandang berpotensi menjadi sumber pendapatan yang stabil karena kebutuhan layanan kesehatan lansia cenderung berkelanjutan.
KAEF juga menggeser fokus bisnis dari layanan kuratif menuju preventive and personalized care melalui portofolio Healthspan yang mencakup obat-obatan, produk nutraceutical, dan herbal untuk mendukung kualitas hidup lansia.
Dukungan layanan diagnostik dijalankan melalui PT Kimia Farma Diagnostika (KFD) yang menyediakan skrining dini, pemeriksaan kesehatan berkala, dan medical check-up khusus lansia.
Sementara itu, layanan Homecare seperti Home Lab, Home Pharmacy, dan Home Nurse disiapkan untuk menjangkau pasien lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas.
Di tengah tekanan nilai tukar dan kenaikan harga bahan baku global, KAEF terus menjalankan efisiensi operasional, mengoptimalkan produk dengan margin tinggi, mendiversifikasi pemasok, serta meningkatkan penggunaan bahan baku lokal guna menjaga daya saing dan keberlanjutan bisnis.
Baca Juga: Kimia Farma Genjot Bahan Baku Obat Lokal, Ketergantungan Impor Masih Tembus 95%
Perseroan juga memastikan proses penyelesaian berbagai tantangan historis, termasuk perkara arbitrase internasional di Singapore International Arbitration Centre (SIAC), tidak akan mengganggu operasional maupun transformasi bisnis yang sedang berjalan.
Seluruh aktivitas manufaktur, distribusi, apotek, dan layanan kesehatan Kimia Farma disebut tetap beroperasi normal untuk melayani masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














