kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45889,80   -6,05   -0.68%
  • EMAS1.327.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kinerja Moncer, Jababeka (KIJA) Raih Laba Rp 322,3 Miliar pada Kuartal I


Minggu, 21 Mei 2023 / 17:10 WIB
Kinerja Moncer, Jababeka (KIJA) Raih Laba Rp 322,3 Miliar pada Kuartal I
ILUSTRASI. Logo PT Jababeka Tbk (KIJA).


Reporter: Venny Suryanto | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Jababeka Tbk (KIJA) mencatat total pendapatan sebesar Rp 775,7 miliar untuk kuartal pertama tahun 2023. Jumlah itu meningkat 55% dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2022.

Sementara laba bersih yang dihasilkan mencapai Rp 322,3 miliar. Hal ini berbalik dari sebelumnya mengalami rugi bersih sebesar Rp 28,8 miliar pada kuartal I-2022.

Rinciannya, pendapatan dari land development & property perseroan mencatat peningkatan pendapatan sebesar 78% menjadi Rp 380,0 miliar, dari Rp 213,8 miliar pada kuartal I-2022.

Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan penjualan tanah matang, yang meningkat dari Rp 34,7 miliar menjadi Rp 274,9 miliar pada di kuartal I-2023. Sementara sebagian besar disebabkan oleh kontribusi dari Kendal sebesar Rp 271,8 miliar. 

Baca Juga: Sepanjang Tahun Ini, Midi Utama (MIDI) Targetkan Kenaikan Pendapatan Dua Digit

elanjutnya, segmen apartemen mengalami pendapatan dari Rp 16,8 miliar di kuartal I-2022 menjadi Rp 25,8 miliar pada periode kuartal I-2023. Pendapatan pilar infrastruktur juga meningkat 41% menjadi Rp 367,9 miliar untuk kuartal pertama tahun 2023.

“Alasan utama peningkatan ini adalah karena pembangkit listrik lebih banyak beroperasi pada 1Q23 dibandingkan dengan kuartal I-2202 dan adanya tagihan kepada PLN yang tertunda sehingga belum dapat dicatatkan pada bulan Januari 2022,” ujar Sekretaris Perusahaan KIJA, Muljadi Suganda dalam keterangan resmi, Minggu (21/5). 

Selain itu, kenaikan tarif jasa dan pemeliharaan sejak awal tahun 2023 juga berkontribusi terhadap pertumbuhan tersebut. Di sisi lain, dry port mengalami penurunan pendapatan yang disebabkan oleh penurunan volume, dari Rp 49,2 miliar menjadi Rp 44,0 miliar di kuartal I tahun ini.

Hal ini karena penerapan peraturan baru tentang neraca komoditas sejak awal 2023 yang mengharuskan importir dan eksportir memiliki persetujuan impor dan ekspor dari Kementerian Perdagangan. 

“Peraturan ini telah menyebabkan beberapa barang impor terhambat untuk masuk ke Indonesia, termasuk yang melalui CDP,” ujarnya. 

Lebih lanjut, dari sektor leisure & hospitality KIJA membukukan peningkatan pendapatan sebesar 9% menjadi Rp 27,7 miliar pada kuartal pertama 2023. Hal ini disebabkan oleh kinerja yang lebih baik dari segmen golf, yang meningkat 12% dalam tiga bulan pertama tahun 2023. 

Segmen golf memberikan kontribusi sebesar 67% terhadap total pendapatan pilar leisure & hospitality pada kaurtal I 23, dibandingkan dengan 68% pada kaurtal I 22.

Dengan demikian, KIJA bukukan laba bersih sebesar Rp 322,3 miliar pada kuartal pertama tahun 2023, hal ini berbalik dari sebelumnya mengalami rugi bersih sebesar Rp 28,8 miliar pada kuartal I-2022.

“ Alasan utama dari kinerja yang lebih baik in adalah peningkatan laba kotor dan dampak dari pergerakan valuta asing (valas),” tutur Muljadi. 

Baca Juga: Cerestar Indonesia (TRGU) Targetkan Penjualan Tumbuh hingga 15% di 2023

Dari sisi land development dan marketing sales, perseroan mencapai Rp 662,4 miliar pada kuartal pertama 2023 atau naik 39% dibandingkan dengan Rp 477,6 miliar pada kuartal pertama 2022. 

Penjualan pemasaran dari Cikarang dan lainnya (keduanya tidak termasuk JV) memberikan kontribusi sebesar 12%, dan perusahaan-perusahaan joint venture perseroan memberikan kontribusi sebesar 88%. 

Kemudian penjualan dari produk industri tanah atau lahan dengan bangunan pabrik standar juga memberikan kontribusi sebesar 86%, sedangkan segmen residensial/komersial dan lainnya memberikan kontribusi sebesar 14%. 

Sampai akhir tahun 2023, KIJA menargetkan marketing sales sebesar Rp 2,0 triliun, yang terdiri dari Rp 1,0 triliun dari Cikarang dan lainnya (tidak termasuk JV), serta Rp 1,0 triliun dari perusahaan-perusahaan joint venture perseroan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×