kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45947,15   -9,97   -1.04%
  • EMAS977.000 -1,21%
  • RD.SAHAM -1.34%
  • RD.CAMPURAN -0.36%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.03%

Konsumsi Meningkat, Subsidi Energi Berpotensi Melonjak


Rabu, 18 Mei 2022 / 19:41 WIB
Konsumsi Meningkat, Subsidi Energi Berpotensi Melonjak
ILUSTRASI. Petugas melayani pengisian BBM jenis Pertalite . ANTARA FOTO/Jojon/tom.


Reporter: Filemon Agung | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konsumsi energi terus meningkat dan berpotensi membuat subsidi energi ikut membengkak.

Di sisi lain, pemerintah memastikan belum akan melakukan penyesuaian harga atau tarif sektor energi khususnya untuk BBM subsidi serta tarif listrik.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengungkapkan, pemerintah belum memiliki rencana untuk menaikkan harga BBM khususnya Pertalite dan juga tarif listrik.

"Tidak ada yang naik, masih dijaga karena kita harus menjaga kondisi perekonomian kita," ungkap Arifin di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (17/5).

Arifin menjelaskan, kondisi harga atau tarif komoditas energi saat ini dijaga untuk memastikan terjaganya tingkat inflasi.

Secara khusus untuk kelistrikan, Arifin memastikan untuk saat ini pemerintah masih akan tetap dengan kebijakan tariff adjustment yang telah ditahan sejak 2017 silam.

Dalam catatan Kontan, konsumsi BBM subsidi khususnya Pertalite tercatat mengalami lonjakan khususnya pada momen arus mudik dan arus balik.

Baca Juga: Kemenkeu Tegaskan Kenaikan Harga Energi Belum Akan Dilakukan

Selama momen arus mudik, BPH Migas mencatat konsumsi BBM Jenis RON 90 (Pertalite) mencapai penyaluran tertinggi pada H-1 Idul Fitri yakni sebesar 46% dari penjualan normal.

Sebelumnya, dalam Rapat Kerja Menteri ESDM bersama Komisi VII DPR RI, telah disepakati adanya penambahan kuota untuk BBM subsidi baik itu Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite maupun Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar untuk tahun ini.

Adapun, penambahan kuota meliputi  kuota solar di tahun 2022 sebanyak 2,29 juta kiloliter (KL) dari sebelumnya 15,10 juta KL sehingga menjadi 17,39 juta KL.

Sementara itu, kuota Pertalite disepakati menjadi 28,50 juta KL dari sebelumnya 23,05 juta KL.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengapresiasi langkah pemerintah untuk tidak menaikkan harga jual Pertalite.

Menurutnya, konsumsi Pertalite ke depan memang berpotensi mengalami peningkatan. Kendati demikian, dengan harga yang stabil maka dapat membantu masyarakat untuk mengalokasikan belanja kebutuhan lainnya.

Dengan demikian, kebijakan menahan harga Pertalite bisa mendorong pemulihan ekonomi. Langkah ini diakui berpotensi membuat subsidi energi melonjak, namun menurutnya lonjakan ini masih dapat dikontrol.

Baca Juga: Harga Pertalite dan Listrik Belum Naik, Pemerintah Siapkan Tambahan Subsidi Energi

"Proyeksi kenaikan subsidi energi berkisar Rp 200 triliun hingga Rp 250 triliun dari anggaran awal sebesar Rp 134 triliun," kata Bhima kepada Kontan.co.id, Rabu (18/5).

Bhima menjelaskan, pemerintah masih dapat melakukan penyesuaian pos anggaran lainnya. Sebagai contoh, pendapatan dari booming komoditas akibat naiknya harga minyak dapat dialokasikan untuk penambahan subsidi energi.

Bhima menambahkan, dari sektor kelistrikan, beban subsidi sedikit lebih ringan. Hal ini didorong oleh kebijakan DMO batubara untuk kebutuhan pembangkit listrik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×