Reporter: Hervin Jumar | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mengakselerasi pembangunan dan operasional Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih sebagai sumber baru Pendapatan Asli Desa (PAD). Namun di tengah ekspansi yang masif, kontribusi pendapatan koperasi ini masih dalam tahap awal dan belum merata.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menyebut Kopdes Merah Putih merupakan program strategis nasional yang dirancang untuk memperkuat ekonomi desa, termasuk melalui peningkatan PAD.
“Kami sampaikan bahwa Koperasi Desa Merah Putih ini adalah program strategis nasional yang memang layak untuk kita sukseskan secara bersama-sama,” kata Yandri saat dikonfirmasi di rumah dinasnya, Senin (16/3/2026).
Yandri menjelaskan bahwa skema koperasi ini memungkinkan desa memperoleh manfaat langsung dari aktivitas usaha. Minimal 20% keuntungan Kopdes akan masuk sebagai PAD, sesuai Permendes PDT Nomor 10 Tahun 2025.
Baca Juga: Agrinas Pangan Catat Sudah Ada 1.103 Pengajuan Masuk Buat Lahan Pembangunan KDMP
Selain itu, seluruh sisa hasil usaha (SHU) juga dikembalikan kepada masyarakat desa, khususnya kelompok berpendapatan rendah.
“Sisa hasil usahanya itu 100 persen kembali ke desa, terutama masyarakat miskin di desil 1 sampai desil 5,” katanya.
Hingga saat ini, dari target nasional 32.660 gerai, sekitar 2.700 unit telah rampung dan sebagian mulai beroperasi. Namun pemerintah belum merinci capaian pendapatan, mengingat sebagian besar unit usaha masih dalam tahap awal.
Dari sisi model bisnis, Kopdes mengandalkan segmen ritel kebutuhan pokok serta penyerapan hasil produksi desa sebagai sumber utama pendapatan. Skema ini diharapkan dapat menciptakan perputaran ekonomi lokal sekaligus menopang PAD desa.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menekankan percepatan pembangunan menjadi kunci agar koperasi segera mencapai skala ekonomi dan berkontribusi nyata.
“Jika kita bisa mempercepat proses pengerjaan di lahan-lahan baru, kita optimistis progres signifikan akan terlihat pada bulan September mendatang,” ungkap Ferry di kantor PT Agrinas Pangan Nusantara di Jakarta, Senin (16/3/2026).
Baca Juga: Beras SPHP Dominan, Penjualan Bulog ke KopDes Merah Putih Masih Rp7,2 Miliar
Ia juga menyebut pentingnya penguatan sistem distribusi, operasional, hingga integrasi logistik pangan agar koperasi dapat berjalan efektif.
Ferry mengungkapkan pemerintah masih fokus pada pematangan ekosistem sebelum seluruh gerai beroperasi penuh, termasuk memastikan standar layanan di berbagai unit usaha seperti gerai obat dan klinik.
Di kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menambahkan pembangunan fisik gerai terus berjalan. Ia menargetkan lebih dari 20.000 unit dapat selesai sepenuhnya dalam waktu dekat.
“Dan kita berharap sampai akhir April ini kita sudah bisa lebih dari 20.000 yang sudah 100 persen selesai,” katanya.
Baca Juga: Kadin Minta Presiden Batalkan Impor 105.000 Mobil dari India untuk Kopdes Merah Putih
Joao mengungkapkan bahwa pengelolaan Kopdes akan mengadopsi standar profesional berbasis digital dengan pengawasan terpusat.
Sistem ini ditujukan untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam skala nasional, meski tetap mempertahankan prinsip dasar koperasi.
Di sisi lain, pemerintah juga memberi sinyal proteksi terhadap Kopdes dengan mendorong pembatasan izin ritel modern di desa.
Yandri menilai langkah ini penting agar potensi pendapatan tetap berputar di tingkat lokal.
"Kalau ritel modern, keuntungannya diambil semua, tidak ada yang kembali kepada masyarakat. Ya, kecuali mungkin tenaga kerja. Tapi kalau koperasi ini, benar-benar dia murni untuk rakyat di desa," pungkasnya.
Baca Juga: Sudah Temui Mendes, Mendag Buka Suara Soal Kopdes Merah Putih vs Ritel Modern
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












