kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Korea akan suntik proyek pesawat Habibie R80


Jumat, 24 November 2017 / 22:50 WIB


Sumber: Antara | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - 

JAKARTA. Proyek pengembangan pesawat turboprop R80 rancangan Presiden Ketiga RI BJ Habibie segera mendapat pembiayaan dari perusahaan asal Korea, D-Raon Engineering, melalui skema Pembiayaan Infrastruktur Non-APBN (PINA).

Pada penandatanganan nota kesepahaman (MoU) penjajakan investasi, Presiden Direktur PT Regio Aviasi Industri (RAI) Agung Nugroho belum mau menyebutkan nilai investasi dari kerja sama ini karena harus melalui tahap uji tuntas atau "due dilligence" selama tiga bulan.

"Soal besar investasinya, ini masih penjajakan. Kalau PINA fasilitasi, memang pasti diawali dengan proses due dilligence. Untuk tentukan nilainya, investir perlu uji tuntas," kata Agung di Kantor PT RAI, Jakarta, Jumat (24/11).

Agung menjelaskan pengembangan pesawat R80 yang masuk dalam salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), ini membutuhkan total dana sebesar US$ 1,6 miliar.

Anggaran tersebut akan digunakan baik untuk detail desain pesawat, pembuatan manufaktur prototipe, pembelian barang komponen dari vendor dan "supply chain" Indonesia, biaya dan peralatan sertifikasi, peralatan desain, biaya operasi dan pengembangan pesawat.

Ada pun pada tahap pertama, pesawat R80 dengan kapasitas 80 penumpang, ini akan dibangun sebanyak 450 unit, 155 unit pesawat di antaranya sudah dipesan oleh sejumlah maskapai nasional, yakni dari NAM Air, Kalstar, Trigana Air dan Aviastar.

Agung merinci pesanan tersebut terdiri dari NAM Air sebanyak 100 unit; Kalstar 25 unit, Trigana Air 20 unit dan Aviastar 10 unit. Harga per unit pesawat sebesar US$ 25 juta.

Dari total dana yang dibutuhkan sebesar US$ 1,6 miliaruntuk pengembangan R80, proyek ini tidak menggunakan dana APBN sama sekali, melainkan dari swasta melalui PINA dan pembiayaan publik "crowd funding" yang saat ini sudah mencapai Rp6 miliar.

"Peran APBN tidak ada, jadi kami optimalkan dana dari luar negeri dan dalam negeri. Kita jajaki dari masyarakat juga kecil-kecil. Sekarang dari publik Rp6 miliar," kata CEO PINA Ekoputro Adijayanto.

Sementara itu, Chairman D-Raon Engineering C.S Lee mengatakan pihaknya tertarik untuk berinvestasi pada pesawat terbang rancangan Indonesia, terutama pesawat R80 bermesin twin-turboprop yang dinilai mampu menyaingi Boeing ATR-72.

"Kami tertarik dengan proyek pembuatan pesawat ini, terutama pada model R80. Kami sangat yakin proyek ini akan sangat menguntungkan tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga dunia," ujar Lee.

Keunggulan pesawat R80 dari pesaing terdekatnya, yaitu ATR-72 yang digunakan Garuda Indonesia, antara lain lebih efisien, nyaman dan ekonomis terutama untuk jarak dekat dengan jarak tempuh 400-800 nautical mile atau sekitar 1.400-1.500 kilometer.

Pesawat ini juga dinilai cocok untuk penerbangan domestik antarpulau di Indonesia dan tidak membutuhkan landasan yang terlalu panjang sehingga bisa mendarat di bandara kecil. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×