kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

KPPU: Wajib pakai baja Krakatau Steel salahi UU


Kamis, 21 Mei 2015 / 20:28 WIB
KPPU: Wajib pakai baja Krakatau Steel salahi UU
ILUSTRASI. JAKARTA-Karyawan menunjukkan emas di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta. KONTAN/Fransiskus Simbolon


Reporter: Benediktus Krisna Yogatama | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai kebijakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mewajibkan BUMN konstruksi hanya boleh menggunakan baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menyalahi aturan persaingan usaha.

Nawir Messi, Ketua KPPU mengatakan bahwa memorandum of understanding yang di inisiasi oleh Menteri BUMN tersebut menilai menyalahi Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. "Mereka bisa kena itu (pelanggaran UU)," ujar Nawir pada KONTAN, Kamis (21/5).

Menurutnya, peraturan Menteri BUMN atau MoU itu menyalahi asas persaingan usaha yang sehat, baik secara teknis di lapangan, maupun secara hukum. "Itu menghambat BUMN Konstruksi untuk peroleh alternatif pasokan baja yang kompetitif. Sebaliknya untuk Krakatau Steel, hal itu melanggar hak mereka untuk memilih pihak yang akan mereka pasok. Juga menghalangi perusahaan lain untuk pasok baja ke BUMN konstruksi," katanya.

Namun ia mengatakan belum akan bertindak lebih jauh dan memberikan sanksi. "Saya belum baca detail MoU atau Permen BUMN soal itu. Masih jauh kita bicarakan sanksi," ujarnya.

Nawir mengatakan baru akan menyampaikan rekomendasi kepada Menteri BUMN. "Secara hukum tidak bisa begitu. Peraturan Menteri BUMN atau MoU itu tidak boleh menyalahi UU. Perlu ada landasan hukum yang lebih kuat," tuturnya.

Ia mengusulkan Peraturan Menteri BUMN dan MoU tersebut perlu diperkuat dengan landasan hukum yang bisa mengecualikan UU. "Paling tidak Keputusan Presiden," sarannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×