Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) meningkatkan kebutuhan produksi susu nasional. Di sisi lain, pasokan susu segar dalam negeri dinilai baru mampu menyumbang sekitar 20% terhadap kebutuhan nasional.
Direktur Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), Yusup Munawar mengatakan, produksi susu segar dalam negeri pada kuartal pertama tahun ini cenderung meningkat tipis dibanding periode yang sama tahun lalu.
Ia melihat, pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan produksi di masing-masing koperasi susu, serta mulai berproduksinya sapi perah yang telah masuk melalui program investasi pada tahun lalu.
Baca Juga: Harga Bahan Baku Terkerek, Industri Pengolahan Susu Siap Sesuaikan Harga Jual
"Meski demikian, pertumbuhan produksi belum signifikan. Sementara itu, kebutuhan susu nasional terus meningkat, terutama dengan adanya MBG," jelas Yusup kepada Kontan, Minggu (26/4/2026) malam.
Hal ini akhirnya memicu bertambahnya ketergantungan impor susu. Pada tahun ini, GKSI memprediksi kebutuhan bahan baku susu nasional masih akan bergantung pada impor hingga 80%.
"Pertumbuhan permintaan nasional berjalan jauh lebih cepat dibanding kemampuan produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN)," ujar Yusup.
Jika program MBG berjalan secara penuh, ia mengatakan kebutuhan susu nasional akan meningkat dengan skala yang cukup besar. Dus, dalam jangka pendek impor masih diperlukan untuk menjaga kesinambungan pasokan susu.
Secara domestik, koperasi susu dinilai tetap menjadi tulang punggung produksi susu segar nasional hingga saat ini. Mengingat, sebagian besar peternak sapi perah rakyat menyalurkan produksi melalui koperasi.
Maka, untuk mengoptimalkan produksi, koperasi susu nasional pun terus melakukan pembenahan. "Dari sisi kapasitas, koperasi terus meningkatkan volume produksi dan kualitas susu yang dihasilkan," jelas Yusup.
Baca Juga: Prospek Bisnis Vape Tertekan Isu Narkotika, Industri Minta Regulasi Tepat
Berbagai koperasi pun disebut terus memperkuat layanan kepada anggota dan melakukan adopsi teknologi di berbagai aspek. Misalnya, digitalisasi rantai pasok susu, pengawetan pakan, hingga teknologi reproduksi sapi perah yang lebih mutakhir.
"Dalam jangka menengah dan panjang, ketergantungan impor diharapkan dapat berkurang, melalui penambahan populasi sapi perah produktif serta peningkatan produktivitas sumber daya eksisting," imbuh Yusup.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













