kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Mengenal Piko Hidro, si kecil yang menerangi Papua


Senin, 14 Oktober 2019 / 17:52 WIB

Mengenal Piko Hidro, si kecil yang menerangi Papua
ILUSTRASI. PLN menjalankan program Papua Terang.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dibandingkan 32 provinsi lain yang ada di Indonesia, rasio elektrifikasi di Papua dan Papua Barat masih tertinggal. Sesuai data yang dipaparkan Direktur Bina Program Kelistrikan KESDM Jisman S, untuk mencapai Rasio Desa Berlistrik (RDB) 100% di  Provinsi Papua dan Papua Barat pada 2020 nanti, masih ada 414 desa dengan 78.000 rumah yang harus dilistriki. 

Berdasarkan data Kementerian ESDM, Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Provinsi Papua dan Papua Barat saat ini adalah 98,3%, yang dicapai melalui kontribusi PLN (48,5%), program LTSHE (Lampu Tenaga Surya Hemat Energi) dari  Kementerian ESDM dan listrik swadaya inisiatif pemda-pemda setempat.  

Baca Juga: Tingkatkan konektivitas, Kominfo dorong pembangunan BTS dan satelit

Sementara tingkat RE nasional PLN yang mencapai 98,86%. PLN berencana mengakhiri kegelapan malam di Papua dengan melistriki 1.724 desa di sana. Dengan demikian, target besarnya pada akhir 2020 rasio elektrifikasi nasional mencapai 99,9%. 

Untuk mewujudkan rencana besar tersebut, langkah awal yang diperlukan adalah merancang survei untuk memetakan system kelistrikan yang tepat untuk pedesaan Papua yang memiliki bentang alam yang sangat beragam. 

Salah satu langkah ambisius yang ditempuh adalah  menggandeng kelompok mahasiswa pencinta alam (Mapala) dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Cendrawasih, LAPAN dan TNI AD. Berbagai institusi tersebut dipersatukan ke dalam tim Ekspedisi Papua Terang (EPT). 

Terobosan PLN tersebut rupanya berbuah. Di mana dari target survey 415 desa, tim EPT mampu memetakan sistem kelistrikan yang akan dibangun di 841 desa di Papua dan Papua Barat. 

Kisah putera Papua pertama kali menjejak pedalaman 
Hasil itu tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tim survei harus menempuh perjalanan panjang menggunakan pesawat terbang, mobil dan diakhiri dengan jalan kaki berjam-jam melalui hutan lebat, gunung tinggi, sungai dalam dan ngarai nan terjal. Salah satunya seperti yang dialami Simson Donyadone, mahasiswa program D3 Teknik Elektro Universitas Cendrawasih, Jayapura. Simson tercatat sebagai relawan Tim Ekspedisi Papua Terang batch kedua pada September 2018. 

Baca Juga: Percepat internet daerah terpencil, pemerintah akan bangun 4.000 BTS tahun depan

Uniknya, meski lahir dan besar di tanah Papua, tepatnya di Dupapre, Jayapura, namun Simson sendiri ternyata belum pernah menjejakkan kaki ke kawasan pedalaman Papua. Karena itu mahasiswa 19 tahun itu mengaku bersyukur dapat mengikuti Ekspedisi Papua Terang pada September 2018 lalu. “Saya baru melihat pedalaman Papua saat itu. Sebelumnya saya lebih banyak tinggal di kotanya, di Jayapura,” ujar Simson. 

Karena medan yang luar biasa berat, timnya hanya dapat menyurvei 5 desa dalam waktu seminggu bertugas. Selain faktor medan, masalah akurasi titik lokasi desa pun jadi persoalan. Bekal peta digital yang dikoneksikan ke perangkat Global Positioning System (GPS)  sekalipun, ternyata di lapangan tidak selalu akurat. 

Ada pula sejumlah desa yang batal dikunjungi atas saran anggota TNI AD yang mengawal karena dianggap sangat rawan dari sisi keamanan. “Jadi memang tantangan terberatnya, rute, yang kemudian berdampak pada bahan makanan yang kita bawa. Awalnya bekal makanan disiapkan untuk 5 hari, ternyata jadi 7 hari. Jadi ya dicukup-cukupkan saja,” urai Simson. 


Reporter: Tendi Mahadi
Editor: Tendi
Video Pilihan

Tag

Close [X]
×