kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45784,56   -4,98   -0.63%
  • EMAS937.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Menilik proyek energi mandiri oleh produsen semen di dalam negeri


Minggu, 10 Mei 2020 / 20:04 WIB
Menilik proyek energi mandiri oleh produsen semen di dalam negeri
ILUSTRASI. Peresmian terminal semen INTP, senin (19/3). (doc. INTP)

Reporter: Agung Hidayat | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Supaya semakin efisien dalam mengkonsumsi energi, para produsen semen dalam negeri melengkapi beberapa pabriknya dengan pembangkit listrik sendiri. Seperti PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) yang diketahui telah mengoperasikan secara penuh siklus operasional dari 1 unit aero derivative gas turbine (ADGT) untuk menyuplai 73 MW.

Unit tersebut termasuk memasok listrik dari steam turbine ke komplek Pabrik Citeureup yang nilai investasinya mencapai Rp 468,3 miliar. Antonius Marcos, Corporate Secretary mengatakan gas turbine tersebut digunakan untuk back up energi listrik, jika jaringan listrik utama terganggu.

Baca Juga: Akibat corona, kinerja Indocement (INTP) diproyeksi tidak semoncer tahun lalu

"Dimana kami menggunakan nya hanya untuk back up. Mayoritas untuk tenaga listrik kami masih menggunakan listrik dari PLN," sebutnya kepada Kontan.co.id, Minggu (10/5). Lebih lanjut Antonius bilang, hal ini karena biaya gas industri yang mahal dan masih menggunakan Dolar AS membuat biaya listrik yang per kwh nya yang dihasilkan dari gas turbine lebih mahal dibandingkan biaya listrik per kwh dari PLN.

Oleh karena itu sepertinya, kata Antonius, perusahaan belum ada rencana menambah mesin gas turbine baru untuk pembangkit listrik. Proyek penghematan energi yang tengah dikejar INTP yang ialah fasilitas pengolahan limbah menjadi bahan bakar atau Refuse-Derived Fuel (RDF).

Antonius menjelaskan proyek tersebut bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Jawa Barat, dimana saat ini Pemda sedang membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi RDF di desa Nambo, di mana lokasinya dekat dengan pabrik INTP di Citeureup. 

"Kami sudah menandatangani perjanjian untuk menerima RDF tersebut. Saat ini kami sedang membangun fasilitas penerimaan RDF tersebut di salah satu pabrik kami di Citeureup. Sampah yang diolah nanti akan menghasilkan bahan bakar kurang lebih 500 ton sehari," urai Antonius.

Baca Juga: Volume penjualan Indocement (INTP) turun 6% di kuartal pertama 2020

Sementara untuk pabrik INTP di Tarjun, Kalimantan Selatan tidak menggunakan gas turbine melainkan pembangkit listrik batu bara. "Ke depan nya kami juga akan memakai listrik dari PLN. Saat ini instalasi jaringan PLN nya sedang dalam tahap pembangunan," ujarnya.

Manajemen belum merinci besaran efisiensi dari penggunaan energi listrik secara mandiri tersebut, namun yang diketahui anggaran belanja modal tahun ini yang mencapai Rp 1,4 triliun sebagian diperuntukkan untuk memaksimalkan efisiensi pabrikan.

Sementara itu produsen semen lainnya, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) diketahui juga melakukan efisiensi dan inovasi dalam memperoleh daya listrik. Salah satu proyek besarnya ialah pembangunan pembangkit listrik dengan memanfaatkan gas buang lewat waste heat recovery power generation (WHRPG) pabrik Tuban I - IV dengan kapasitas 30 megawatt MW. 

Output yang dihasilkan WHRG ditaksir setara dengan dari konsumsi listrik empat psepertiga abrik Tuban yang mencapai 140 MW. Besarnya energi listrik yang dihasilkan mampu memberi nilai efisiensi yang cukup besar. Penggunaan teknologi ini merupakan yang kedua bagi Semen Indonesia, setelah sebelumnya dibangun di pabrik Indarung Padang dengan kapasitas 8,5 MW dan sudah beroperasi pada tahun 2011.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×