kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.916   3,00   0,02%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Mentan janji berikan alat untuk petani kakao


Senin, 15 Februari 2016 / 22:36 WIB


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berjanji akan membantu para petani kakao untuk meningkatkan produksinya.

Sejauh ini, Amran mengklaim telah memberikan bantuan dengan mengirimkan sejumlah alat dan teknologi yang dapat mengolah kakao menjadi produk siap jadi seperti cokelat di Sulawesi Barat. Dengan meningkatkan produksi kakao dalam negeri, Indonesia berpotensi sebagai penghasil kakao terbesar di dunia.

Amran mengakui kalau masih banyak petani kakao yang terbatas dalam peralatan dan teknologi. Untuk itu, ia menyadari peran pemerintah amat penting untuk mendongkrak produksi kakao. "Kami akan memperhatikan kondisi petani, salkan petani kakao dapat meningkatkan produksiya," ujarnya melalui rilisnya, Senin (15/2).

Sulawesi Barat merupakan salah satu penghasil kakao di Indonesia. Salah satu desa produsen kakao bernama Pammulukang memiliki luas area tanaman kakao sebesar 1.000 hektare (ha).

Mentan berharap harga kakao di tingkat petani bisa meningkat dan ongkos produksi bisa ditekan. Ia meminta para pedagang tidak mengambil keuntungan terlalu besar sehingga menimbulkan kesenjangan antara harga kakao di petani dan di konsumen.

Sejauh ini, harga kakao non fermentasi di tingkat petani rata-rata Rp 25.000 per kilogram (kg). Sementara itu harga kakao di pasar global berada di kisaran Rp 36.000 per kg. Disparitas harga kakao ini dinilai tidak adil bagi petani.

Karena itu, peran pemerintah dalam memutus tata niaga penjualan kakao sangat dibutuhkan. Upaya pemerintah juga menekan petani agar memfermentasi kakao milik mereka harus didukung kebijakan harga kakao yang lebih tinggi dibandingkan kakao non fermentasi. Minimal ada kenaikan harga mulai dari RP 3.000 per kg antara kakao fermentasi dan non fermentasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×