kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.399.000   13.000   0,94%
  • USD/IDR 16.140
  • IDX 7.328   27,17   0,37%
  • KOMPAS100 1.142   4,95   0,44%
  • LQ45 920   5,02   0,55%
  • ISSI 219   0,28   0,13%
  • IDX30 458   2,53   0,56%
  • IDXHIDIV20 549   3,16   0,58%
  • IDX80 129   0,76   0,60%
  • IDXV30 127   0,36   0,29%
  • IDXQ30 155   0,64   0,42%

Menteri ESDM Bertemu Konsultan Brazil Bahas Pengembangan Bioethanol di Tanah Air


Jumat, 14 Oktober 2022 / 16:01 WIB
Menteri ESDM Bertemu Konsultan Brazil Bahas Pengembangan Bioethanol di Tanah Air
ILUSTRASI. Kementerian ESDM Bertemu Konsultan Brazil Bahas Pengembangan Bioethanol di Tanah Air. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/POOL/nym.


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif bersama dengan jajarannya melakukan pertemuan dengan konsultan dari Brazil dan Peter Sondakh di Gedung Kementerian ESDM pada Jumat 14 Oktober 2022. Pada pertemuan tersebut topik yang dibahas ialah pengembangan bioethanol di Tanah Air.

Bioethanol merupakan jenis bahan bakar nabati yang diproduksi dari tumbuhan seperti umbi-umbian, jagung, atau tebu. 

Menteri ESDM, Arifin Tasrif menjelaskan, konsultan dari Brazil ini memberikan gambaran prospek pengembangan bioethanol di Indonesia. 

Baca Juga: Kementerian ESDM Uji Kualitas Pertalite di Lemigas, Begini Hasilnya

Pengalaman Brazil memasifkan tanaman tebu untuk memproduksi ethanol dan dipakai untuk bahan campuran BBM. Saat ini Brazil telah memiliki 2 jenis bahan bakar nabati ini yakni E27 dan E100 yang dapat menghemat penggunaan minyak mentah. 

“Lahan tebu Indonesia rata-rata 400.000 hektar, sedangkan di Brazil ada 9,5 juta hektar. Produksi gula di Brazil 3 kali produksinya kita sehingga mereka mengekspor gula,” jelasnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (14/10). 

Arifin menyatakan, potensi pengembangan ethanol di Indonesia cukup besar. Total luas daratan di Indonesia mencapai 191 juta hektar di mana dari sisi tanah lebih subur. Meski jenis tanah lebih subur, Indonesia tetap harus banyak belajar metode pemanfaatannya dari negara lain. 

Ke depannya kalau terjadi krisis pangan, lanjut Arifin, Indonesia harus bisa mengantisipasi dan melihat potensi-potensi untuk mengembangkan hasil pertanian, di luar sektor makanan/minuman tetapi juga ke sektor energi. 

“Ini adalah visinya presiden untuk melihat potensi-potensi sektor perkebunan pertanian kita untuk bisa dioptimalkan semaksimal mungkin. Selama ini kan gula kurang dapat perhatian, petani tebu sekarang mendapat perhatian penuh dari beliau,” terangnya.

Namun sayang, pengembangan bioetanol di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya belum ada jaminan keberlanjutan pasokan bahan bakunya yakni molases atau tetes tebu. Pasalnya saat ini tetes tebu banyak dimanfaatkan untuk industri lainnya dan diekspor. 

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Dunia Gonjang-ganjing, Ini Nasib Harga BBM Dalam Negeri

Melansir catatan Kontan.co.id, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah melaksanakan revitalisasi industri gula nasional yang salah satu tujuannya juga mendukung produksi bioethanol berbasis tebu dalam rangka ketahanan energi, dan pelaksanaan energi bersih melalui penggunaan bahan bakar nabati (biofuel).

Revitalisasi industri gula dilakukan dengan membentuk PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) yakni gabungan 7 PTPN dan anak PTPN, serta 2 cucu perusahaan. SGN akan menggarap lahan 700.000 hektare (ha) untuk ditanami tebu mulai tahun ini. Revitalisasi ditargetkan membawa Indonesia mencapai swasembada gula konsumsi tahun 2028.

Dengan revitalisasi ini, produksi gula nasional ditargetkan naik secara bertahap dari saat ini 2,35 juta ton per tahun menjadi 4,73 juta ton sampai 5,7 juta ton per tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×