kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.999   39,00   0,23%
  • IDX 7.230   -355,26   -4,68%
  • KOMPAS100 1.007   -52,30   -4,94%
  • LQ45 742   -33,56   -4,32%
  • ISSI 252   -15,35   -5,75%
  • IDX30 394   -15,77   -3,85%
  • IDXHIDIV20 491   -16,20   -3,20%
  • IDX80 113   -5,56   -4,68%
  • IDXV30 132   -5,22   -3,80%
  • IDXQ30 128   -4,81   -3,63%

Minggu Kedua Ramadan, Harga Ayam dan Cabai Rawit Merah Menguat


Minggu, 08 Maret 2026 / 16:21 WIB
Minggu Kedua Ramadan, Harga Ayam dan Cabai Rawit Merah Menguat


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga sejumlah komoditas pangan nasional masih menunjukkan pergerakan pada pekan kedua Ramadan.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) mencatat harga daging ayam ras dan cabai rawit merah mengalami kenaikan di tingkat pedagang eceran secara nasional pada Minggu (8/3/2026) hingga pukul 09.10 WIB.

Berdasarkan pemantauan PIHPS, harga daging ayam ras tercatat mencapai Rp 41.050 per kilogram. Di lain sisi, cabai rawit merah menembus Rp 78.900 per kilogram.

Kenaikan dua komoditas ini terjadi di tengah meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ngadiran, menilai kenaikan harga ayam diduga dipengaruhi persoalan distribusi serta pasokan bibit ayam atau day old chick (DOC) di tingkat peternak.

Baca Juga: Mendag Pastikan Harga Daging Ayam Saat Ramadan Terjaga meski Kini Masih di Atas HAP

“Sesuai keterangan dari peternak saat ini faktor distribusi dan ada juga faktor DOC atau bibit. Oleh karena itu, kami meminta pemerintah menugaskan satgas untuk mengecek agar harga tetap terkendali,” tutur Ngadiran kepada Kontan, Minggu (8/3/2026).

Ngadiran juga menduga masih terdapat praktik lama dalam rantai distribusi pangan yang berpotensi memicu permainan harga di pasar.

Sementara itu, kenaikan harga cabai rawit merah masih berkaitan dengan faktor cuaca. Menurut Ngadiran, sebagian petani menunda panen karena khawatir kualitas cabai rusak akibat curah hujan tinggi.

Selain dua komoditas tersebut, harga sejumlah bahan pangan lain tercatat bervariasi. PIHPS mencatat bawang merah berada di Rp 43.700 per kg dan bawang putih Rp 40.200 per kg.

Harga beras kualitas bawah I tercatat Rp 14.450 per kg dan kualitas bawah II Rp 14.500 per kg.

Adapun beras medium I tercatat Rp 15.950 per kg dan medium II Rp 15.800 per kg. Sementara beras kualitas super I berada di Rp 17.200 per kg dan super II Rp 16.700 per kg.

Untuk komoditas cabai lainnya, cabai merah besar tercatat Rp 43.850 per kg, cabai merah keriting Rp 44.250 per kg, dan cabai rawit hijau Rp 52.750 per kg.

Di kelompok protein hewani, daging sapi kualitas I tercatat Rp 144.550 per kg dan kualitas II Rp 136.500 per kg. Telur ayam ras dijual sekitar Rp 32.600 per kg.

Baca Juga: PINSAR Tegaskan Stok Ayam Melimpah, Lonjakan Harga Bukan dari Peternak

Sementara itu, gula pasir premium dipatok Rp 19.950 per kg dan gula lokal Rp 18.550 per kg. Minyak goreng curah berada di kisaran Rp 19.000 per liter, sedangkan minyak goreng kemasan bermerek I Rp 22.700 per liter dan bermerek II Rp 21.700 per liter.

Di tengah pergerakan harga tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pemerintah telah mengantisipasi potensi fluktuasi harga pangan menjelang hingga setelah Idul Fitri.

Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, mengatakan pemerintah biasanya mewaspadai pergerakan harga sekitar satu pekan sebelum dan sesudah Lebaran.

“Kita lihat beberapa tahun terakhir, kalau kondisi di bulan Ramadan itu minus satu minggu dan plus satu minggu biasanya ada fluktuasi. Jadi seminggu sebelum dan seminggu setelah Lebaran pemerintah akan mengantisipasinya,” kata Sarwo dalam keterangannya, Sabtu (7/3/2026).

Menurut Sarwo, langkah stabilisasi tersebut diawali dengan memastikan produksi pangan dalam negeri tetap kuat. Pemerintah menilai sebagian besar kebutuhan pangan nasional masih dapat dipenuhi dari produksi domestik yang dihasilkan para petani.

“Hal pertama yang dipastikan pemerintah adalah pemenuhan dari produksi dalam negeri. Kita lihat produksi dalam negeri masih sangat cukup. Sebagian besar ketersediaan pangan pokok strategis kita dapat dipenuhi dari hasil kerja keras petani-petani Indonesia sendiri,” tambahnya.

Bapanas memperkirakan ketersediaan sejumlah komoditas strategis masih berada dalam kondisi surplus hingga beberapa bulan ke depan. Beras diproyeksikan surplus sekitar 17,2 juta ton hingga akhir April.

Jagung juga diperkirakan surplus 4,8 juta ton dan minyak goreng sekitar 3,5 juta ton.

Baca Juga: Harga Cabai Naik pada Awal Ramadan, Pelaku Usaha Prediksi Harga Turun Setelah Lebaran

Selain itu, daging ayam diperkirakan surplus sekitar 727.000 ton, gula konsumsi 595.000 ton, serta telur ayam ras sekitar 349.000 ton.

Sementara komoditas hortikultura seperti cabai rawit, cabai besar, dan bawang merah masing-masing diproyeksikan surplus 105.000 ton, 74.000 ton, dan 57.000 ton.

Gejolak harga pangan di minggu kedua Ramadan pun menuai sorotan dari pengamat.

Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prima Gandhi, menilai stabilitas pangan selama Ramadan 2026 relatif terjaga berkat intervensi pemerintah berbasis data dan pemantauan harga harian.

“Kebijakan intervensi berbasis data dan pemantauan harian dinilai efektif meredam gejolak harga di tengah lonjakan konsumsi masyarakat,” kata Prima dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).

Ia menambahkan kelompok volatile food memang mencatat kenaikan sekitar 2,50% secara bulanan dengan andil 0,41% terhadap inflasi. Namun, secara tahunan masih berada di level 4,64% sehingga dinilai masih dalam rentang yang dapat dikelola melalui penguatan pasokan dan distribusi.

Baca Juga: Harga Beras Premium Tembus Rp 15.000 per Kg, Cabai Rawit Ikut Meroket

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×