kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Molor dua tahun, megaproyek listrik 35.000 MW baru akan tuntas tahun 2025


Rabu, 17 Juni 2020 / 18:43 WIB
ILUSTRASI. Proyek listrik 35.000 megawatt (MW) bakal molor hingga tahun 2025. Proyek ini semula ditargetkan rampung pada 2023.


Reporter: Filemon Agung | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyebutkan pengembangan proyek listrik 35.000 megawatt (MW) bakal molor hingga tahun 2025 mendatang. Proyek ini semula ditargetkan rampung pada 2023 nanti.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini bilang penyesuaiam ini dilakukan pasca terjadi perubahan pada sisi supply dan demand listrik.

"Namun dengan menyesuaikan suplai dan permintaan, proyek 35.000 MW direncanakan akan selesai pada tahun 2025," ujar Zulkifli dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (17/6).

Baca Juga: PLN: Proyek PLTA Batang Toru akan tertunda hingga tiga tahun

Zulkifli melanjutkan, per 2019 lalu PLN telah merealisasikan sebanyak 14.793 MW. Ia mengakui terjadi penurunan beban listrik yang signifikan di tahun ini.

Demi tetap mengupayakan keberlangsungan proyek ini, Zulkifli menegaskan, PLN bakal memetakan pelanggan-pelanggan besar di sistem kelistrikan Jawa, Bali, Madura dan Sumatera.

Pasalnya, porsi pelanggan pada sistem kelistrikan tersebut berkontribusi 85% konsumsi listrik nasional. "Upaya itu dilakukan PLN untuk mengurangi kelebihan pasokan listrik yang berpotensi membuat beberapa pembangkit menjadi idle," terang Zulkifli.

Ia juga menegaskan, kendala pengembangan juga terjadi pada sisi transmisi dan distribusi listrik.

Kendala yang lazim ditemui dalam pengembangan transmisi yakni soal lahan. Sebagian lahan biasanya masuk dalam area hutan lindung ataupun persoalan lahan dengan pemukiman warga.

Baca Juga: Soal lonjakan tagihan, PLN: Maaf, komunikasi kami belum maksimal




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×