Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah merelaksasi target produksi batubara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi industri alat berat. Kebijakan tersebut berpotensi mendorong peningkatan aktivitas pertambangan yang pada akhirnya mendukung permintaan alat berat.
Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa Ardianus Hadiwinata mengatakan, relaksasi RKAB akan memberikan ruang bagi perusahaan tambang untuk mengoptimalkan produksi jika implementasinya berjalan sesuai rencana.
"Relaksasi RKAB tentu menjadi sentimen positif bagi industri pertambangan. Jika implementasinya berjalan sesuai rencana, kebijakan ini dapat memberikan ruang bagi perusahaan tambang untuk mengoptimalkan produksi dan menjaga aktivitas operasional tetap berjalan dengan baik," ujar Adrianus kepada Kontan, Selasa (9/6/2026).
Baca Juga: Relaksasi RKAB Batubara Berpotensi Dongkrak Permintaan Alat Berat pada Semester II
Menurut dia, peningkatan aktivitas tambang berpotensi mendukung permintaan alat berat, terutama menjelang semester II yang umumnya menjadi periode dengan aktivitas operasional lebih tinggi.
Meski demikian, Ardianus menilai dampak kebijakan tersebut masih perlu dicermati lebih lanjut karena bergantung pada realisasi di lapangan serta perkembangan pasar ke depan.
"Bagi industri alat berat, kondisi tersebut berpotensi mendukung permintaan, terutama menjelang semester II yang umumnya menjadi periode dengan aktivitas yang lebih tinggi. Namun demikian, dampaknya tetap perlu dilihat seiring realisasi di lapangan dan perkembangan pasar ke depan," katanya.
Saat ini, kondisi pasar alat berat dinilai masih relatif stabil. Aktivitas sektor pertambangan tetap berjalan cukup baik, meski pelaku usaha masih berhati-hati dalam melakukan investasi.
Ardianus mengungkapkan, pasar alat berat hingga saat ini masih berada pada level yang kurang lebih sama dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Aktivitas dari sektor pertambangan masih cukup baik, meskipun pelanggan tetap cenderung selektif dalam melakukan investasi dan fokus pada produktivitas serta efisiensi operasional," imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah akan melakukan relaksasi RKAB batu bara secara terukur dengan mempertimbangkan perkembangan harga komoditas global.
Menurut Bahlil, pemerintah dapat meningkatkan produksi ketika harga batu bara berada pada level yang menguntungkan. Sebaliknya, pemerintah akan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan saat harga mulai melemah.
"Kita akan melakukan relaksasi yang terukur. Artinya kalau harganya bagus kita akan meningkatkan produksi. Kalau harganya mulai mentok kita juga akan membuat kebijakan agar supply and demand itu bisa kita jaga," ujar Bahlil dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/6).
Relaksasi tersebut dipertimbangkan seiring dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang mempengaruhi pergerakan harga komoditas dunia.
Adapun sebelumnya Kementerian ESDM merencanakan target produksi batu bara dalam RKAB 2026 di kisaran 600 juta ton. Angka itu lebih rendah dibandingkan RKAB batu bara 2025 yang mencapai 1,2 miliar ton, dengan realisasi produksi nasional sekitar 790 juta ton.
Baca Juga: Champion Pacific (IGAR) Siapkan Capex Rp 88 Miliar di 2026, Ini Peruntukannya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













