Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - BOJONEGORO. Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) mencatat peningkatan produksi dari Sumur Banyu Urip A07 melalui kegiatan perawatan sumur atau well services.
Intervensi melalui program water shut-off (WSO) berhasil menaikkan produksi minyak sumur tersebut dari sebelumnya sekitar 4.800 barel per hari (barrel oil per day/BOPD) menjadi 12.300 BOPD. Artinya, terdapat tambahan produksi sekitar 7.500 BOPD, jauh melampaui target awal sebesar 1.000 BOPD.
"Keberhasilan ini menunjukkan bahwa intervensi teknologi yang tepat dapat memberikan peningkatan produksi yang signifikan dalam waktu relatif singkat. Ini adalah bukti bahwa optimalisasi sumur eksisting dapat secara langsung mendorong peningkatan lifting minyak nasional," kata Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam keterangan resmi, Rabu (4/3/2026).
Baca Juga: Kontrak Blok Cepu Diperpanjang, ExxonMobil Diminta Tambah Investasi Rp 168 Triliun
Tambahan produksi ini sekaligus memberikan kontribusi terhadap peningkatan lifting minyak nasional. Lapangan Banyu Urip selama ini menjadi salah satu kontributor utama produksi minyak nasional. Karena itu, setiap tambahan produksi dari lapangan ini dinilai strategis dalam menjaga pasokan energi domestik.
Program WSO dilakukan untuk menekan aliran air yang tidak diinginkan dari zona bawah sumur sehingga proporsi minyak yang dihasilkan menjadi lebih tinggi. Dalam pelaksanaannya, EMCL menerapkan sejumlah metode teknis seperti pemasangan bridge plug, re-perforation, serta stimulasi acidizing.
Pendekatan tersebut dinilai mampu mengoptimalkan potensi sumur eksisting tanpa perlu melakukan pengeboran baru, sehingga tambahan produksi bisa diperoleh lebih cepat dengan biaya yang lebih efisien.
Baca Juga: Bahlil Bicara Soal Perubahan Bagi Hasil ExxonMobil Blok Cepu Usai Kesepakatan Trump
Dari sisi operasional, pekerjaan dilakukan tanpa menggunakan rig atau rigless operation dengan memanfaatkan unit wireline. Metode ini membuat pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat sekaligus menekan biaya operasional.
SKK Migas mencatat realisasi biaya kegiatan ini hanya sekitar 57% dari total anggaran yang telah disetujui.
Keberhasilan optimalisasi Sumur Banyu Urip A07 ini menjadi salah satu contoh strategi peningkatan produksi yang dinilai lebih cepat dan hemat biaya dibandingkan pengeboran sumur baru. Ke depan, pendekatan serupa diharapkan dapat diterapkan oleh KKKS lain untuk menjaga momentum peningkatan produksi minyak nasional.
Baca Juga: SKK Migas Akui Permintaan ExxonMobil Ajukan Perubahan Skema Bagi Hasil di Blok Cepu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













