kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pakai biodiesel impor, izin industri akan dicabut


Rabu, 18 September 2013 / 16:43 WIB
ILUSTRASI. Kode Redeem FF 5 Mei 2022, Kesempatan Dapetin Skin MP40, SPAS12, Groza, dan M14


Reporter: Hendra Gunawan | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Pemerintah mengancam akan mencabut izin usaha industri biosolar yang menggunakan biodiesel impor dari Malaysia. "Semua pelaku industri biosolar enggak boleh beli dari Malaysia. Semua harus beli dari dalam negeri, dicampur di dalam negeri. Kalau ada apa-apa laporkan. Kita cabut izin usahanya," kata Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Susilo Siswoutomo, di Jakarta, Rabu (18/9).

Dalam workshop Bahan Bakar Nabati tersebut, Susilo mengatakan, kebutuhan energi terus mengalami kenaikan dan memberatkan keuangan negara karena terlalu banyak energi yang diimpor dari luar.

Untuk kebutuhan industri saja, solar yang dibutuhkan setiap tahun rata-rata 16 juta kiloliter. Perusahaan listrik negara membakar setidaknya 6-7 juta kiloliter, sementara industri sebesar 11 juta kiloliter. "Kalau dikonversi ke minyak impor, sudah 95.000 barrel per hari," ujarnya.

Karena kebutuhan yang besar itu, maka perlu ada alternatif seperti penggunaan biosolar, campuran antara solar dari fosil dan bahan bakar nabati (BBN).

Ia menegaskan, penggunaan energi alternatif biosolar merupakan langkah penting untuk mendukung paket kebijakan presiden mengurangi kebijakan impor BBM. "Itu satu-satunya cara untuk mengurangi impor BBM kita yang sangat besar," pungkasnya. (Kompas.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×