Reporter: Leni Wandira | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri estetika medis Indonesia berpotensi terus berkembang seiring meningkatnya permintaan terhadap berbagai prosedur perawatan berbasis medis.
Nilai pasar estetika medis Indonesia diproyeksikan naik dari US$ 234,11 juta pada 2022 menjadi US$ 450,23 juta pada 2028.
Pertumbuhan pasar tersebut sekaligus membuka peluang bagi pengembangan ekosistem industri, termasuk kebutuhan terhadap dokter yang memiliki kompetensi khusus di bidang estetika medis.
Baca Juga: Implementasi Efisiensi Energi, Teknologi Pencahayaan Semakin Penting
Berbagai prosedur estetika seperti filler, botulinum toxin (BoNT), laser, threadlift, hingga microneedling membutuhkan pemahaman mengenai anatomi, teknik tindakan, serta kemampuan menangani karakteristik dan risiko dari setiap kasus.
Kondisi ini turut mendorong berkembangnya lembaga pendidikan dan pelatihan estetika medis di Indonesia.
Bagi dokter yang ingin masuk atau mengembangkan praktik di bidang tersebut, kualitas pelatihan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Jakarta Science Academy (JSA), lembaga kursus dan pelatihan estetika medis di Jakarta menilai, pengalaman praktik langsung menjadi bagian penting dalam membangun kompetensi dokter estetika.
Praktisi sekaligus pengajar JSA dr. Danu Mahandaru mengatakan, kompetensi dokter tidak cukup dibangun hanya melalui sertifikat pelatihan.
Menurut dia, dokter juga perlu mendapatkan pengalaman menangani kasus secara langsung dengan pendampingan instruktur.
“Peserta kami tidak bergantian dan tidak menonton. Setiap orang memegang kasusnya sendiri dari asesmen sampai evaluasi, dan instruktur mendampingi satu per satu. Itu sebabnya kami berani menyebut rasionya secara terbuka,” ujar Danu dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Baca Juga: Bisnis AMDK Makin Kompetitif, Aqua Perkuat Rantai Pasok dan Distribusi
Menurut Danu, metode satu peserta satu kasus memungkinkan dokter mengikuti keseluruhan proses, mulai dari asesmen, perencanaan tindakan, prosedur hingga evaluasi.
Hal tersebut dinilai penting karena setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda, baik dari sisi anatomi, kondisi jaringan maupun respons terhadap tindakan. Dokter pun dituntut mampu mengambil keputusan berdasarkan kondisi masing-masing kasus.
Evaluasi hasil tindakan juga menjadi bagian dari proses pembelajaran. Peserta dapat melihat perkembangan hasil prosedur sekaligus mendiskusikan kasus tersebut dengan instruktur.
Ekosistem Pelatihan
JSA menyebut telah beroperasi sejak 2018. Berdasarkan informasi yang diberikan perusahaan, lembaga tersebut terdaftar dengan NPSN K9997988 dan memiliki Akreditasi A sebagai lembaga penyelenggara pelatihan bidang kesehatan dari Kementerian Kesehatan.
Akreditasi tersebut tercantum dalam Sertifikat Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Nomor 543/H/A.I/3173L00296/V/2025 yang diterbitkan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal SDM Kesehatan Nomor HK.02.02/F/1993/2025 pada 5 Mei 2025.
Baca Juga: Bukan Lagi Adu Spesifikasi, Ini Arah Baru Industri Smartphone
Selain pelatihan, JSA juga mengembangkan jaringan klinik mitra sebagai bagian dari ekosistem pascapelatihan.
JSA menyebut saat ini memiliki jaringan lebih dari 100 klinik mitra yang dapat menjadi salah satu jalur bagi alumni untuk mengembangkan praktik di bidang estetika medis.
Meski demikian, jaringan tersebut bukan merupakan jaminan pendapatan bagi lulusan. Pengembangan karier tetap bergantung pada kompetensi dokter, kemampuan membangun praktik, serta kepatuhan terhadap ketentuan profesi dan regulasi yang berlaku.
Dengan nilai pasar yang diproyeksikan meningkat hampir dua kali lipat dalam periode enam tahun, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang kompeten menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang dalam pengembangan industri estetika medis Indonesia.
Bagi dokter yang ingin masuk ke sektor tersebut, pemilihan lembaga pelatihan tidak hanya perlu mempertimbangkan sertifikat.
Fasilitas praktik, porsi hands-on, kompetensi instruktur, mekanisme evaluasi kasus, akreditasi lembaga, serta dukungan pascapelatihan menjadi sejumlah aspek yang dapat dipertimbangkan.
Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) Genjot Diversifikasi Bisnis, Tapi Batubara Masih Jadi Mesin Laba
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














