kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Pembangkit thorium bisa blackstart 30 menit jika blackout, cocok untuk Indonesia


Senin, 26 Agustus 2019 / 09:13 WIB

Pembangkit thorium bisa blackstart 30 menit jika blackout, cocok untuk Indonesia
ILUSTRASI. Bob S Effendi, Chief Representative ThorCon International PTE Ltd


KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Kejadian blackout listrik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyadarkan kita bahwa perlu adanya pembangkit yang bisa atau dengan cepat blackstart atau melakukan recovery dengan cepat agar listrik kembali hidup.

Seperti kita ketahui, untuk recovery pembangkit batubara atau PLTU ketika terjadi blackout dibutuhkan waktu 8 jam, sedangkan untuk pembangkit gas atau PLTG membutuhkan waktu recovery 4 sampai 5 jam.

Baca Juga: Ketua DPD RI: Kami setuju PLTN dibangun di Bengkayang Kalbar

Bahkan, saat blackout kemarin belum semua daerah merasakan aliran listrik kembali dalam tempo waktu 8 jam tersebut. Salah satu pembangkit yang memiliki blackstart dengan cepat adalah pembangkit listrik tenaga thorium (PLTT).

Pembangkit jenis ini memang memiliki desain yang berbeda dengan pembangkit pada umumnya, pembangkit ini akan dibangun di pantai. Sehingga, jika terjadi masalah bisa langsung ditenggelamkan. Tetapi, PLTT ini minim dari risiko karena tidak bertekanan.

Nama pembangkit thorium ini mulai dikenal publik saat ThorCon International PTE Ltd menjalin kerja sama dengan PT PAL (Persero) beberapa waktu lalu untuk mengkaji kemungkinan pembangunan reaktor Thorium Molten Salt Reactor 500 (TMSR 500).

Bob S Effendi, Chief Representative ThorCon International PTE Ltd mengungkapkan, pihaknya sudah mulai MoU dengan Kementerian ESDM sejak Oktober 2018 tentang pengkajian pembangunan pembangkit dari bahan bakar 85% thorium dan 15% uranium ini. "Kami akan bangun PLTT 500 Megawatt," ungkap dia di kantornya di WTC 3, Jakarta, Jumat (23/8).

Baca Juga: ThorCon International Pte,Ltd dan PT PAL akan bangun PLTN

Bob mengatakan, jika tak ada aral melintang dalam waktu dekat akan ada konfrensi bersama tentang pembangkit ini dari Kementerian ESDM. Sebab, jika proyek ini dibangun maka tahun 2026-2027 akan mengubah bauran energi yang signifikan.

"Saya kira pak Jonan ini top, dia memikirkan soal Biaya Pokok Penyedian (BPP) pembangkit listrik yang rendah. Kita tahu BPP dari PLTT ini rendah, apalagi jika semakin besar dibangunnya," kata dia.

Dia menggambarkan, jika PLTT ini dibangun 500 MW harga listriknya bisa US$ 7 sen per kWh, tetapi begitu dibangun 1.000 MW maka harga listriknya US$ 6 sen per kWh. Untuk itu, pihaknya menawarkan tiga daerah untuk bisa dibangun PLTT, yakni di Kalimantan Barat, Riau, dan Bangka Belitung.

"Tapi, lokasi Kalbar sangat menarik. Karena terkait dengan pemindahan Ibukota. Akan ada 1,5 juta PNS pindah dan membutuhkan daya listrik denghan cepat, ThorCon bisa bangun dalam waktu 3-4 tahun 500 MW," imbuh dia.

Saat ini kapasitas terpasang di Kalimantan mencapai 3.000 MW, dan dalam waktu lima tahun kedepan untuk memenuhi kebutuhan listrik para PNS yang dipindah butuh pembangkit sampai 6.000 MW. "Ini bisa lebih langsung 5.000 MW," ujar dia.

Baca Juga: Begini tanggapan sejumlah pihak soal usulan kajian PLTN oleh DPR RI

Kata Bob, yang paling terpenting selain proyek ini bisa menurunkan BPP pembangkit listrik, pembangkit jenis ini bisa cepat melakukan recovery jika terjadi blackout. "Pembangkit ini bisa langsung recovery hanya 30 menit," imbuh dia.

Dengan kemampuan ini maka pelanggan PLN akan terbantu untuk bisa beraktivitas kembali. Dia berharap memang, pembangkit jenis ini bisa dibangun di luar pulau Jawa agar pertumbuhan ekonomi bisa bergerak dengan cepat.


Reporter: Azis Husaini
Editor: Azis Husaini

Video Pilihan

Terpopuler

Close [X]
×