kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.120.000   -48.000   -1,52%
  • USD/IDR 16.807   31,00   0,18%
  • IDX 8.329   96,95   1,18%
  • KOMPAS100 1.162   22,43   1,97%
  • LQ45 832   18,58   2,29%
  • ISSI 299   3,07   1,04%
  • IDX30 431   9,38   2,23%
  • IDXHIDIV20 512   10,99   2,20%
  • IDX80 129   2,64   2,09%
  • IDXV30 139   2,22   1,63%
  • IDXQ30 139   3,63   2,67%

Pemerintah, Industri dan Akademisi Ungkap Potensi & Tantangan Ekosistem Semikonduktor


Jumat, 30 Januari 2026 / 11:21 WIB
Pemerintah, Industri dan Akademisi Ungkap Potensi & Tantangan Ekosistem Semikonduktor
ILUSTRASI. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - BANDUNG. Pemerintah bersama pelaku industri dan akademisi memetakan potensi dan tantangan dalam membangun ekosistem semikonduktor nasional. Semikonduktor memiliki peran strategis sebagai penopang bagi berbagai sektor prioritas seperti industri elektronik, otomotif, energi, telekomunikasi dan transformasi digital.

Namun, saat ini ketergantungan Indonesia terhadap impor produk semikonduktor dan komponen elektronik lainnya masih cukup tinggi. Dalam lima tahun terakhir, nilai impor naik signifikan dari US$ 2,33 miliar pada 2020 menjadi US$ 4,87 miliar pada periode Januari - November 2025.

Impor produk semikonduktor berasal dari sejumlah negara, terutama Taiwan senilai US$ 1,35 miliar dan China sebesar US$ 1,24 miliar. Disusul oleh Korea Selatan (US$ 748 juta), Filipina (US$ 447 juta), Malaysia (US$ 238 juta), Singapura (US$ 224 juta) dan Jepang (US$ 208 juta).

Meski begitu, ekspor juga meningkat cukup pesat dari US$ 438 juta pada 2020 menjadi US$ 3,70 miliar pada Januari - November 2025. Kondisi ini menjadi sinyal pentingnya memetakan tantangan dan peluang pengembangan ekosistem industri semikonduktor nasional melalui Indonesia Semiconductor Summit (ISS) 2026.

Baca Juga: Permintaan Pakaian Naik Jelang Lebaran, Pengusaha Konveksi Masih Krisis Penjahit

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti kebutuhan industri nasional terhadap komponen semikonduktor terus meningkat seiring dengan tingginya aktivitas industri hilir. Agus mencontohkan pada industri elektronik, realisasi produksi ponsel di Indonesia secara tahunan mencapai sekitar 30 juta - 60 juta unit.

Sedangkan produk elektronik lainnya seperti laptop tahun ini ditargetkan menembus 1,57 juta unit. Di sektor otomotif, penggunaan semikonduktor semakin krusial seiring meningkatnya kompleksitas teknologi kendaraan. Pada tahun lalu, produksi kendaraan bermotor Indonesia mencapai 803.867 unit.

Produksi kendaraan bermotor tersebut termasuk kendaraan hybrid dan listrik yang memiliki nilai kandungan semikonduktor hingga tiga kali lebih besar dibandingkan kendaraan konvensional.

"Oleh sebab itu, kebutuhan akan pengembangan industri semikonduktor, terutama chip menjadi semakin mendesak," ungkap Agus dalam agenda ISS 2026 di ITB Innovation Park, Bandung, pada Kamis (29/1/2026).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan ekosistem semikonduktor yang memetakan target jangka pendek (2 - 3 tahun), jangka menengah (4 -5 tahun) dan jangka panjang (6 - 10 tahun).  Roadmap ini mencakup penguatan empat pilar utama, yakni: material, desain, fabrikasi atau front end, serta Assembly, Testing and Packaging (ATP) atau back end.

"Pendekatan ini dilakukan secara bertahap dan realistis, yang didukung oleh pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia), riset dan inovasi, infrastruktur, serta kebijakan industri yang kondusif," terang Agus.

Baca Juga: Peluang Bisnis Furnitur RI Masih Luas, Pangsa Pasar Global di Bawah 1%

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan Adziman menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi talenta  untuk mengisi ekosistem industri semikonduktor.

Setiap tahun, ada sekitar 90.000 lulusan yang terkait dengan semikonduktor. Mulai dari teknik elektro, informatika, teknik mesin, kimia, teknik kimia, matematika dan fisika.

Hanya saja, Indonesia masih perlu memperkuat ekosistem dan investasi yang terintegrasi untuk mengembangkan industri semikonduktor. "Bagaimana mengembangkan talenta, investasi dan strategi untuk pengembangan industri itu bisa terintegrasi," kata Fauzan.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengingatkan bahwa semikonduktor menjadi salah satu faktor penting dalam geopolitik dunia saat ini. Dus, semikonduktor menjadi strategis untuk mencapai kemandirian industri dan teknologi maupun persaingan geopolitik dunia.

"Step by step, minimal dari sisi desain kita sudah bisa membuat sendiri, juga bisa digunakan secara nasional, harapannya bisa ekspor juga. Langkah berikutnya mencari aliansi, sehingga bisa mendukung industri Indonesia," ujar Arif.

Ketua Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) Trio Adiono mengatakan bahwa saat ini tidak ada satu negara pun yang bisa berdiri sendiri untuk mengembangkan industri semikonduktor. Trio bilang, Indonesia memiliki tiga kekuatan dalam ekosistem industri semikonduktor.

"Indonesia bisa berintegrasi dengan global value chain. Di hulu, kita punya material yang diperlukan. SDM, dan market yang besar, tetapi belum kita kuasai. Jadi Indonesia punya potensi, minimal produk yang kita buat itu dipakai di market sendiri," terang Trio.

Baca Juga: Pemerintah Pastikan Tak Ada Insentif Motor Listrik 2026, Industri Diminta Adaptif

Saat ini, Indonesia baru memiliki dua perusahaan yang masuk ke dalam global value chain. Produsen tersebut memiliki fasilitas perakitan dan pengujian semikonduktor, serta desain Integrated Circuit (IC).

Menurut Trio, idealnya ada sekitar 200 perusahaan agar secara kapasitas Indonesia bisa terintegrasi dengan global value chain ekosistem industri semikonduktor. Sesuai dengan roadmap, Trio berharap kapasitas dan produsen semikonduktor Indonesia bisa meningkat pesat dalam tiga tahun ke depan.

Sebagai informasi, pembentukan ICDEC dirintis dalam rangkaian Hannover Masse 2023. Pendirian ICDEC diprakarsai oleh Kemenperin, PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) bersama pakar design chip dari 13 universitas. Saat ini, ICDEC sudah bermitra dengan 16 perguruan tinggi di Indonesia.

Dihubungi terpisah, Tekno Wibowo sebagai Commercial Director Polytron memandang bahwa prospek industri semikonduktor ke depan akan sangat besar karena diperlukan oleh hampir semua produk elektronik.

Tekno menyoroti pentingnya kesiapan dan kualitas SDM, yang menjadi faktor penting untuk menarik minat investor membangun ekosistem semikonduktor di Indonesia.

"Polytron ingin memulai dan mendukung program pengembangan semikonduktor, mulai dengan ketersediaan SDM yang siap bekerja di industri, dengan merangkul universitas. Harapannya ketersediaan SDM akan menarik para investor untuk membangun industrinya," kata Tekno saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (29/1/2026).

Sebagai produsen berbagai produk elektronik dan kendaraan listrik, saat ini Polytron memenuhi kebutuhan semikonduktor melalui impor ke sejumlah negara seperti Taiwan, Singapura, Malaysia dan Korea Selatan. Tekno berharap ekosistem industri semikonduktor bisa berkembang di Indonesia, supaya memudahkan pengembangan produk Polytron.

"Perlu digarisbawahi juga bahwa investasi semikonduktor memerlukan modal yang sangat besar, dan di beberapa negara lain pemerintah hadir untuk memberikan insentif yang menarik buat para investor," kata Tekno.

Upaya untuk mengembangkan ekosistem semikonduktor juga membawa berkah bagi pengembang kawasan industri. Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Akhmad Ma’ruf Maulana mengungkapkan ketertarikan sejumlah investor global untuk membangun pabrik semikonduktor seperti di Batam dan Jawa Tengah.

Baca Juga: Menperin Tegaskan Tidak Ada Insentif Motor Listrik pada 2026, Ini Alasannya

Investor semikonduktor tersebut antara lain berasal dari Amerika Serikat (AS), Jerman, Taiwan dan China. HKI berupaya menarik investasi dari perusahaan global untuk membentuk Joint Venture (JV) dengan perusahaan lokal agar terjadi transfer teknologi.

"Skema ini dirancang agar investasi yang masuk tidak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga mendorong percepatan transfer teknologi, penguatan rantai pasok dalam negeri, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia Indonesia,” kata Ma'ruf.

Tapi, HKI menyoroti terkait lambatnya proses perizinan yang bisa menghambat realisasi investasi dan pembangunan fisik pabrik. "Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dapat menghambat momentum strategis pengembangan industri teknologi tinggi di Indonesia," tegas Ma'ruf.

Terkait kesiapan lokasi, Ma'ruf mengungkapkan sejumlah kawasan industri strategis yang dinilai kompetitif untuk pengembangan industri semikonduktor. Antara lain Kawasan Industri Batamindo di Batam, Kawasan Industri Wiraraja, Kawasan Industri Kabil, serta kawasan Galang Batang di Bintan. 

Selanjutnya: Gus Yaqut Bakal Hadir Dalam Pemeriksaan Kasus Korupsi Kuota Haji 2024 di KPK Hari Ini

Menarik Dibaca: Jangan Lewatkan! 6 Promo Makanan Ini Habis Jumat Terakhir Januari 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×