Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mengusulkan subsidi dan kompensasi listrik sebesar Rp 274,02 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Nilai tersebut mencakup anggaran subsidi sebesar Rp 108,43 triliun dan Rp 165,59 triliun sebagai kompensasi.
Plt. Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno mengungkapkan bahwa usulan subsidi dan kompensasi untuk tahun 2027 mengalami kenaikan dibandingkan target tahun ini. Dalam APBN 2026, pemerintah menganggarkan subsidi dan kompensasi sebesar Rp 245,58 triliun, yang terdiri dari Rp 100,83 triliun subsidi dan Rp 144,75 triliun kompensasi.
Tri mengungkapkan bahwa kenaikan subsidi listrik disebabkan oleh sejumlah faktor. Mulai dari perubahan asumsi makro, tidak adanya perubahan tarif subsidi, serta kenaikan penjualan. Sedangkan kenaikan kompensasi listrik terjadi karena tidak diberlakukannya tariff adjustment dan peningkatan penjualan.
Baca Juga: Pasokan Obat Dipastikan Aman hingga Akhir Tahun, BPOM Harap Industri Mengerem Harga
Soal tarif listrik, Tri menegaskan bahwa pemerintah tidak menaikkan tarif listrik sejak tahun 2017. Kenaikan tarif hanya diberlakukan secara terbatas kepada segmen pelanggan tertentu, yakni rumah tangga dengan daya lebih dari 3.500 Volt-Ampere (VA) dan Pemerintah yang mengalami penyesuaian pada tahun 2022.
"Tarif listrik yang berlaku saat ini, pada dasarnya tidak mengalami kenaikan sejak 1 Januari 2017, kecuali tarif untuk rumah tangga di atas 3.500 VA dan tarif pemerintah yang mengalami penyesuaian pada tahun 2022," ungkap Tri dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (4/6/2026).
Tri menjelaskan bahwa sampai dengan April 2026, realisasi subsidi dan kompensasi listrik telah mencapai Rp 59,93 triliun. Dengan rincian Rp 30,19 triliun sebagai subsidi dan Rp 29,74 triliun untuk kompensasi.
Adapun, penjualan listrik dari pelanggan subsidi naik rata-rata sebesar 6,54% per tahun (2020 - 2025). Pada periode yang sama, penjualan listrik non-subsidi naik rata-rata sebesar 5,53% per tahun.
Pada tahun 2027, pemerintah memproyeksikan pelanggan subsidi listrik akan mencapai 45,91 juta pelanggan, atau setara dengan 45% dari total 102,89 juta pelanggan. Sedangkan penjualan subsidi listrik tahun depan diproyeksikan mencapai 83,66 terawatt hour (TWh) atau 24% dari total penjualan listrik yang diproyeksikan menembus 348,78 TWh.
Baca Juga: Adopsi Teknologi Meningkat, Teltonika Targetkan Pertumbuhan 30%-40%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













