Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah perusahaan tambang batubara di Indonesia menghentikan penawaran ekspor spot setelah pemerintah mengusulkan pemangkasan produksi secara signifikan.
Kebijakan ini membuat para pembeli di Asia kesulitan mengamankan pasokan dari eksportir batubara terbesar di dunia tersebut.
Sumber industri menyebutkan, pemerintah pada bulan lalu menetapkan kuota produksi baru bagi para penambang besar yang 40% hingga 70% lebih rendah dibandingkan realisasi produksi tahun 2025.
Kebijakan ini merupakan bagian dari rencana pemangkasan produksi nasional hampir seperempat guna mendongkrak harga batubara di tengah pelemahan permintaan global.
Asosiasi pertambangan batubara nasional menentang kebijakan tersebut karena dikhawatirkan dapat memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) serta penutupan tambang.
Baca Juga: RKAB Dipangkas Hingga 70%, Tambang Batubara Waspadai PHK
“Produksi masih berjalan, tetapi belum pada kapasitas penuh, dan pengiriman batubara akan dibatasi hingga ada keputusan final terkait kuota pemerintah,” ujar Wakil Ketua Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) H. Kristiono kepada Reuters.
Ia menambahkan bahwa saat ini tidak ada kargo spot yang ditawarkan ke pasar.
Meski demikian, kontrak jangka panjang masih tetap dipenuhi. Namun, sejumlah penambang disebut tengah mempertimbangkan pembatalan kontrak dengan alasan kondisi di luar kendali (force majeure).
Dampak Kebijakan terhadap Pasokan Global
Langkah ini menjadi gangguan pasokan terbaru yang dipicu kebijakan pemerintah Indonesia. Sebelumnya, larangan ekspor singkat pada 2022 sempat mendorong lonjakan tajam harga batubara global.
Berdasarkan data Kpler, Indonesia menyumbang sekitar separuh dari total 960 juta metrik ton ekspor batubara untuk pembangkit listrik di dunia pada 2025.
Kini, pemerintah mempertimbangkan pemangkasan produksi hingga 24% menjadi sekitar 600 juta ton, padahal ekspor saja tahun lalu sudah melampaui 510 juta ton.
Para pelaku pasar memperkirakan pembatasan ini akan memperketat pasokan sekaligus mendorong kenaikan harga batubara internasional.
Baca Juga: Industri Batubara Terancam PHK Massal, Ada Apa?
Seorang trader asal India yang hadir dalam konferensi Coaltrans India di New Delhi menyebutkan bahwa kargo spot batubara Indonesia tidak dijual meskipun ada penawaran premi US$1–US$2 per ton di atas harga pasar saat ini.
Trader lain yang berbasis di Singapura memperkirakan pengiriman spot tidak akan kembali normal pada kuartal ini, kecuali Indonesia melonggarkan kebijakan pemangkasan produksi.
Harga Batubara Mulai Terkerek
Dampak kebijakan ini sudah mulai terlihat pada pergerakan harga. Data dari perusahaan perdagangan batubara asal India, I-Energy Natural Resources, menunjukkan harga batubara Indonesia berkalori rendah 4.200 kcal/kg naik sekitar 7% sepanjang Januari, setelah kabar rencana pemangkasan produksi mencuat di awal bulan.
DBX Commodities yang berbasis di London memperkirakan, jika produksi dipangkas 20%, harga batubara kalori rendah—yang mendominasi ekspor Indonesia—dapat melonjak 40% hingga 70%. Sementara itu, harga batubara kalori tinggi berpotensi naik 10% hingga 20%.
“Guncangan pasokan dari Indonesia mendorong kenaikan premi batubara dari negara lain. Permintaan dari Jepang, China, dan Korea meningkat karena mereka mencari pasokan yang lebih stabil,” ujar seorang trader batubara dari perusahaan utilitas besar di Asia.
Permintaan Lemah Bisa Menahan Kenaikan Harga
Meski demikian, sejumlah pelaku industri menilai kenaikan harga tidak akan terlalu tajam. Hal ini karena pembeli mulai beralih ke batubara kalori lebih tinggi dari pemasok lain, serta permintaan yang masih lemah dari dua pembeli utama, yakni China dan India.
CEO DBX Commodities, Alexandre Claude, menyebutkan bahwa tekanan fiskal dan tenaga kerja di dalam negeri bisa mendorong pemerintah mengubah kebijakan.
Baca Juga: Asosiasi Pertambangan Batubara: Pemotongan Produksi Bisa Picu PHK Massal
Selain itu, perlambatan ekonomi China yang lebih tajam dari perkiraan serta harga gas yang tetap rendah dapat meredam kenaikan harga batu bara yang diharapkan.
Sementara itu, Direktur I-Energy Natural Resources, Vasudev Pamnani, memperkirakan pembeli India akan menghadapi guncangan pasokan dan harga dalam jangka pendek.
“Namun, jika pemangkasan ini berlanjut, India memiliki opsi untuk mendiversifikasi impor dari Rusia, Afrika Selatan, dan Mozambik,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan produksi batubara Indonesia tidak hanya berdampak domestik, tetapi juga berpotensi mengguncang keseimbangan pasokan energi di kawasan Asia dalam waktu dekat.
Selanjutnya: Harga Emas Terkoreksi, Begini Proyeksi Kinerja ANTM dan Rekomendasi Analis
Menarik Dibaca: Pasca-Pekan Brutal di Pasar Global, Begini Proyeksi Nasib Bitcoin cs
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













