Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap adanya koreksi atas ekspor batubara Indonesia.
Dalam periode sebelas bulan pertama tahun 2025 (Januari-November 2025) ekspor batubara tercatat hanya mencapai US$22,17 miliar atau turun 20,27% dibandingkan dengan periode Januari-November 2024 sebesar US$27,80 miliar.
Adapun secara volume, ekspor batu bara turun 3,97% menjadi 354,64 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu 269,31 juta ton.
Menurut Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) secara umum, permintaan batubara global pada 2026 diperkirakan masih bertahan, terutama dari kawasan Asia, namun dengan laju pertumbuhan yang relatif terbatas.
"Sejumlah negara mulai bersikap lebih selektif dalam meningkatkan impor seiring dengan agenda transisi energi dan penyesuaian kebijakan domestik masing-masing," ungkap Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani kepada Kontan, Selasa (06/01/2026).
Baca Juga: Kementerian ESDM Buka Suara Soal Penundaan Bea Keluar Batubara
Dalam konteks tersebut, kinerja ekspor Indonesia sangat dipengaruhi oleh kebijakan penetapan produksi nasional.
"Apabila pemerintah menetapkan penyesuaian atau penurunan kuota produksi, maka volume ekspor akan ikut terkoreksi, sehingga ruang pertumbuhan menjadi terbatas," kata dia.
Asal tahu saja, sebelumnya pemerintah melalui Kementerian ESDM akan memangkas produksi nikel dan batu bara pada Rancangan Anggaran Kerja dan Belanja (RKAB) tahun 2026 agar harga komoditas tersebut bisa terdongkrak.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan pemangkasan produksi tersebut memang dilakukan merespons tren penurunan harga sepanjang tahun 2025.
"Semuanya kita pangkas, bukan hanya nikel, batu bara pun kita pangkas. Kenapa? Karena kita akan mengatur supply and demand. Hari ini harga batu bara anjlok semua," ungkapnya usai konferensi pers, Jumat (19/12/2025).
Bahlil menyebut, kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton. Sementara Indonesia memasok sekitar 500-600 juta ton atau hampir 50 persen.
"Gimana harganya nggak jatuh? Jadi kita akan mengatur tujuannya apa? Pengusahanya harus mendapatkan harga yang baik. Negara juga mendapatkan pendapatan yang baik," tambah Bahlil.
Baca Juga: Industri Batubara Masih Akan Dibayangi Tekanan Global dan Biaya Produksi di 2026
Terkait potensi pemangkasan, APBI, menurut Gita melihat bahwa kondisi ini berimplikasi pada nilai ekspor, yang sangat bergantung pada pergerakan harga internasional.
"Saat ini belum terlihat indikasi kenaikan harga yang signifikan. Dengan permintaan yang cenderung moderat dan pasokan global yang relatif terjaga, nilai ekspor berpotensi bergerak stagnan atau mengalami tekanan apabila terjadi pembatasan volume," ungkapnya.
Adapun terkait mencari potensi pasar global lain pada tahun 2026, pengusaha batubara menurutnya masih akan terkonsentrasi pada dua importir terbesar: India dan China.
"Saat ini, ekspor batubara Indonesia masih terkonsentrasi pada dua pasar utama, yakni China dan India. Ke depan, upaya diversifikasi pasar diperkirakan tetap berfokus di kawasan Asia, khususnya negara-negara ASEAN," tutupnya.
Baca Juga: Mulai 2026, Produksi Migas Digenjot dan Batubara Dikendalikan
Selanjutnya: Harga Tembaga Cetak Rekor Tertinggi, Nikel Melonjak Didukung Kebijakan Indonesia
Menarik Dibaca: 8 Mitos tentang Kolesterol yang Tidak Perlu Dipercaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












