kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45927,64   6,18   0.67%
  • EMAS1.325.000 -1,34%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Penting Dikelola Berkelanjutan, Vale Indonesia Sebut Nikel Solusi Transisi Energi


Senin, 04 Maret 2024 / 14:42 WIB
Penting Dikelola Berkelanjutan, Vale Indonesia Sebut Nikel Solusi Transisi Energi
ILUSTRASI. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menyatakan nikel adalah bagian solusi transisi energi


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menyatakan nikel adalah bagian solusi transisi energi, sehingga pengolahan nikel diharapkan dilakukan secara berkelanjutan. 

Head of Communications PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) Suparam Bayu Aji mengatakan, pengolahan nikel diharapkan dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari proses penambangan di tambang hingga ujungnya di baterai sampai (dibuat untuk) mobil listrik

“Pertambangan sangat dibutuhkan. Tetapi kami juga percaya bahwa tidak akan ada pertambangan kalau kita tidak memikirkan masa depan, tidak memikirkan keberlanjutannya,” kata Bayu dalam keterangan resminya, Senin (4/3).

Baca Juga: Vale Indonesia (INCO) Geber 3 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$ 9 Miliar

Bayu menerangkan, dalam pengolahan nikel secara berkelanjutan di Indonesia yang merupakan jenis Laterite, beberapa tantangan utama, di antaranya yakni pengelolaan air limpasan dan menjaga keanekaragaman hayati.

Terkait pengelolaan air limpasan, Bayu mengungkapkan, Vale Indonesia melakukan pengendalian efluen dan sedimentasi terintegrasi. Saat ini Vale memiliki lebih dari 120 sediment pond dan juga memiliki fasilitas Lamella Gravity Settler Wastewater Treatment yang terintegrasi dengan fasilitas pengendalian sedimen secara berjenjang dengan total kapasitas lebih dari 15 juta meter kubik.

Bayu menuturkan, untuk menerapkan praktik pertambangan yang berkesinambungan dengan memperhatikan aspek sebelum dan setelah penambangan, Vale Indonesia membagi alokasi anggaran untuk tiga bagian.

"Sekitar 22% untuk konservasi pra penambangan, sekitar 53% untuk proses penambangan, dan sekitar 25% untuk rehabilitasi pascatambang," ujar Bayu.

Terkait tantangan pengelolaan energi, Bayu bilang Vale Indonesia memiliki peta jalan menuju emisi Net Zero di 2050 dengan menargetkan 33% pengurangan emisi absolut di 2030, PT Vale melakukan upaya mereduksi emisi gas rumah kaca dengan jalur inovasi teknologi dan jalur keanekaragaman hayati. 

 

Sementara itu, Direktur Health, Safety, and Environment PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) Tonny Gultom juga menilai bahwa pemanfaatan energi terbarukan menjadi pertimbangan di industri tambang ke depan.

Karena itu Harita Nickel akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap dengan kapasitas sebesar 40 Megawatt Peak (MWp) di 2024 ini sebagai upaya untuk mendukung penurunan emisi karbon di 2060. 

Kemudian, Direktur PT  Arutmin Indonesia yang juga Wakil Ketua Umum PERHAPI Sudirman Widhy Hartono membeberkan potensi batu bara Indonesia. Sumber daya batu bara Indonesia masih 98,5 miliar ton. Sedangkan, cadangan batu bara Indonesia sebanyak 33,8 miliar ton. Kata Widhy, berdasarkan data itu, potensi batubara, Indonesia tercatat nomor tiga di dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×