kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Peritel kehilangan pendapatan Rp 7 triliun


Rabu, 15 Oktober 2014 / 17:15 WIB
ILUSTRASI. Pembangunan kawasan Hunian Pekerja Konstruksi (HPK) oleh Wika Gedung (WEGE) di IKN, Jumat (17/3/2023). 


Reporter: Agus Triyono | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Situasi politik dalam negeri yang memanas di tahun ini mengancam sektor ritel. Berdasarkan perkiraan yang dibuat oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) kondisi tersebut berpotensi menekan pertumbuhan pengusaha retail.

Satria Hamid, Wakil Sekjen Aprindo memperkirakan bahwa tekanan tersebut akan mengakibatkan target pertumbuhan pendapatan pada tahun 2014 ini meleset sampai dengan Rp 7 triliun.

"Target kami di 2014 sebenarnya mencapai Rp 175 triliun, atau naik 15% dibanding kemarin. Tapi dengan kondisi seperti ini kemungkinan besar hanya akan mencapai Rp 168 triliun saja," kata Satria Rabu (15/10).

Satria mengatakan bahwa selain disebabkan oleh kondisi perpolitikan di dalam negeri yang kurang kondusif, perkiraan penurunan target tersebut juga dibuat dengan mempertimbangkan faktor pelemahan nilai tukar rupiah. Selain itu, faktor kenaikan tarif dasar listrik juga turut menekan pertumbuhan pendapatan di sektor retail.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×