kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Pertamina segera tetapkan pemenang kilang Cilacap


Kamis, 04 Desember 2014 / 10:40 WIB
Pertamina segera tetapkan pemenang kilang Cilacap
ILUSTRASI. Peserta lomba lari Mandiri Jogja Marathon melintasi area persawahan di Desa Tamanmartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (18/6/2023).


Reporter: Agustinus Beo Da Costa | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. PT Pertamina menyatakan segera mengumumkan pemenang tender proyek pembangunan kilang Cilacap yang dikenal dengan Langit Biru Kilang Cilacap (PLBC) pekan depan.

Direktur Pengolahan Pertamina Chrisna Damayanto kepada KONTAN menjelaskan, pemenang tender merupakan salah satu dari tiga konsorsium perusahaan yang sudah mengikuti seleksi yaitu JGC-JGC Indonesia, Toyo-IKPT dan CTCI-Istana Karang Laut.

Chrisna menyatakan, dari studi dan perhitungan yang dilakukan konsultan swasta menunjukkan nilai proyek ideal sekitar US$ 350 juta dengan internal rate of return (IRR) sekitar 12%. Alhasil, waktu pengembalian modal selama 9 tahun. "Perhitungan detail ini diajukan ke dewan direksi dan kemudian disetujui," jelas Chrisna, Senin (1/12). 

Dana pembangunan kilang berasal dari utang. Pertamina tengah menerbitkan global bond senilai US$ 3,25 miliar atau setara dengan Rp 31,2 triliun. Surat utang itu memiliki tenor 10 tahun dan 30 tahun. "Dana itu masuk neraca Pertamina dan diambil untuk kilang itu," ujar Chrisna. 

Setelah pengumuman pemenang, Pertamina berharap awal Januari 2015, konstruksi kilang sudah bisa dimulai. Proyek ini akan memakan waktu 32 bulan sehingga diperkirakan proyek kelar pada 2017. 

Pasokan nafta yang dibutuhkan untuk ini berasal dari produksi dalam negeri, yang selama ini diekspor dengan harga murah. Hasilnya adalah Pertamax dengan kapasitas 50.000 barel per hari atau 1,5 juta barel sebulan. "Impor BBM kita akan berkurang," tegas Chrisna.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×