kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.855   -35,00   -0,20%
  • IDX 6.337   35,43   0,56%
  • KOMPAS100 829   6,30   0,77%
  • LQ45 632   4,70   0,75%
  • ISSI 219   2,04   0,94%
  • IDX30 353   2,32   0,66%
  • IDXHIDIV20 429   1,61   0,38%
  • IDX80 95   0,70   0,74%
  • IDXV30 118   0,79   0,67%
  • IDXQ30 112   0,56   0,50%

Perusahan Gas Negara (PGAS) Buka Suara Soal Pembatasan Kuota Gas Industri di Jatim


Selasa, 20 Januari 2026 / 19:44 WIB
Perusahan Gas Negara (PGAS) Buka Suara Soal Pembatasan Kuota Gas Industri di Jatim
ILUSTRASI. Pertagas Pasokan Gas 125 MMSCFD ke Kilang RDMP Balikpapan (Dok/PT Pertamina Gas (Pertagas))


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli

Ketua Umum Asosiasi Produsen Gelas Kaca Indonesia (APGI) Henry Sutanto mengungkapkan bahwa kuota di bawah 50% terbilang rendah, sehingga akan sangat mengganggu operasional pabrik gelas kaca.

Harga gas di dalam kuota dibanderol sesuai kebijakan HGBT yakni US$ 7 per million british thermal unit (mmbtu).

Sedangkan harga di luar HGBT mencapai US$ 9,5 per mmbtu. APGI mengeluhkan harga surcharge di atas kuota yang terbilang mahal, yakni mencapai US$ 15 per mmbtu.

Henry menjelaskan, biaya gas berkontribusi sekitar 25% terhadap biaya produksi di industri gelas kaca, sehingga harga gas akan memengaruhi daya saing produk.

Baca Juga: Asosiasi Tambang Batubara Ungkap Revisi Kuota DMO Belum Perlu, Ini Alasannya

"Kami sangat menyesalkan hal ini karena industri gelas membutuhkan gas yang stabil. Tidak bisa naik turun. Anggota kami tidak bisa berproduski secara optimal," ungkap Henry kepada Kontan.co.id, Selasa (20/1/2026).

Pembatasan pemakaian harian dan harga surcharge yang tinggi menyebabkan sejumlah anggota APGI mengurangi utilisasi produksi. Padahal, saat ini semestinya produsen gelas kaca mengerek naik utilisasi untuk menangkap pertumbuhan permintaan pada periode Ramadan - Idul Fitri.

Peningkatan pesanan untuk memenuhi kebutuhan Ramadan - Idul Fitri sudah terasa dalam beberapa bulan sebelum momentum tersebut. Secara historis, level pertumbuhan bervariasi tergantung segmen produk, dengan rentang kenaikan hingga 20%.

"Menjelang bulan Ramadan merupakan saat peningkatan produksi. Mudah-mudahan masalah ini hanya di bulan Januari saja dan tidak berlanjut di Februari 2026. Sekarang kami belum hitung berapa kerugian dan penurunan yang terjadi," tandas Henry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×