kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

PLN fokus listriki 78.000 rumah di Papua pada tahun 2020


Rabu, 09 Oktober 2019 / 22:50 WIB

PLN fokus listriki 78.000 rumah di Papua pada tahun 2020
ILUSTRASI. Pada tahun 2020, PLN fokus listriki 78.000 rumah di Papua.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelistrikan Papua merupakan pekerjaan rumah besar yang dihadapi Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua PT PLN (Persero) dalam menyokong cita-cita Indonesia terang secara berkeadilan. Sesuai data yang dipaparkan Direktur Bina Program Kelistrikan Kementerian ESDM Jisman S, untuk mencapai Rasio Desa Berlistrik (RDB) 100% di  Provinsi Papua dan Papua Barat pada 2020 nanti, masih ada 414 desa dengan lebih kurang 78.000 rumah yang harus dilistriki.  

Berdasarkan data Kementerian ESDM, Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Provinsi Papua dan Papua Barat saat ini sebesar 98,3%, yang dicapai melalui kontribusi PLN (48,5%), program LTSHE (Lampu Tenaga Surya Hemat Energi) dari  Kementerian ESDM dan listrik swadaya inisiatif pemda-pemda setempat.  

Namun  menghadirkan terang di seluruh bumi Papua bukan masalah sederhana. Tantangan penugasan PLN di Indonesia Timur, khususnya Papua untuk menuju RDB 100% adalah keterbatasan infrastruktur karena sulitnya medan geografis, kerapatan hunian yang rendah, serta  kompetensi sumber daya manusia yang perlu ditingkatkan. 

Baca Juga: PLN targetkan pemasangan 160 charging station kendaraan listrik di tahun 2020

Beratnya medan jelajah di Papua dialami langsung oleh Farah Aida Ilmiatul Kulsum, Mahasiswa Ilmu Budaya dari Universitas Gajah Mada, yang tahun lalu ikut dalam tim surveyor program inisiatif strategis “Ekspedisi Papua Terang 2018”. 

Tim Farah yang terdiri dari 3 mahasiswa plus tim PLN mendapatkan wilayah survey di pedalaman Mimika, Timika.  Untuk menuju lokasi tersebut, mereka harus menempuh perjalanan laut dengan kapal kecil selama 9 jam, menembus ombak besar yang sewaktu-waktu bisa membalikkan kapal.  

Survei yang dilakukan Farah meliputi penghitungan jumlah penduduk yang harus dilayani,  pengukuran luas lahan dan bidang tanah sebagai lokasi penempatan instalasi listrik,  serta kondisi medan jelajah. Hasil survey tersebut menjadi dasar penentuan jenis sistem pembangkit listrik yang akan diterapkan.   

Daerah Timika karena lokasinya di muara dan merupakan  wilayah berawa-rawa, yang tidak memungkinkan dibangun instalasi permanen dari semen, tim survey merekomendasikan penggunaan panel surya sebagai pembangkit listrik skala lokal.

Ekspedisi Papua Terang merupakan langkah awal PLN dalam membangun sistem kelistrikan Papua. Data dari hasil survey tersebut sekarang sudah mulai dieksekusi melalui program lanjutan  “1000 Renewable Energi untuk Papua.”  Melalui survey tersebut, PLN mendapatkan data berapa desa yang harus dilistriki, berapa jumlah penduduknya, bagaimana tingkat ekonominya, dan sumber energi apa yang potensial.

Baca Juga: Pertamina EP Cepu memulai tajak sumur proyek Jambaran Tiung Biru

Executive Vice President Operasi Regional Maluku Papua (OR-MP) Indradi Setiawan mengatakan, hasil survey tim EPT  menjadi pembuka peta tentang berapa kapasitas listrik yang diperlukan untuk Papua, serta program dan jenis pembangkit apa yang cocok untuk  masing-masing lokasi. Dari sana pula PLN bisa menghitung keperluan SDM yang akan mengelola, serta bagaimana menyiapkan pembangunan dan materialnya. 

Mendukung pernyataan Farah, menurut Indradi,  untuk wilayah Papua yang  jumlah penduduknya tidak besar, dengan kerapatan hunian rendah karena terpencar di berbagai pelosok, memang tak mungkin dibangun infrastruktur kelistrikan berskala besar. 

Pembangunan kelistrikan diharapkan bisa berjalan paralel dengan pengembangan infrastruktur seperti jalan raya, pengembangan pusat-pusat produksi, ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta budaya yang semakin maju, modern, dan mandiri. Ini dalam rangka mendukung dan memperkuat kemajuan masyarakat yang adil dan makmur dalam bingkai NKRI. 


Reporter: Tendi Mahadi
Editor: Tendi

Video Pilihan

Tag
Terpopuler

Close [X]
×