Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan Listrik Negara (PLN) memastikan pasokan batubara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam kondisi aman.
Perseroan telah mengamankan suplai dari delapan perusahaan tambang besar, dengan total pasokan mencapai 84 juta metrik ton.
Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo mengatakan, volume tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir Agustus 2026.
“Ketersediaan batubara kita sangat memadai. Kami baru saja mendapatkan kepastian penugasan dari delapan pemasok utama batubara untuk PLN dan IPP,” ujar Rizal di Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026) malam.
Baca Juga: Pertamina Proyeksi Konsumsi Bensin Naik 12% Saat Mudik Lebaran 2026
Delapan perusahaan pemasok tersebut antara lain:
- PT Adaro Andalan Indonesia
- PT Arutmin Indonesia
- PT Berau Coal
- PT Kaltim Prima Coal
- PT Kideco Jaya Agung
- PT Multi Harapan Utama
- PT Indominco Mandiri
- PT Bukit Asam Tbk
Baca Juga: Trafik Data saat Lebaran 2026 Diproyeksi Naik 20%, Tower Daerah Harus Diperkuat
Rizal menjelaskan, tambahan pasokan ini diharapkan segera memperbaiki Hari Operasi Pembangkit (HOP) di sejumlah PLTU. PLN menargetkan sebelum Lebaran, distribusi batubara sudah sampai ke seluruh pembangkit yang membutuhkan sehingga potensi defisit dapat ditekan.
Secara keseluruhan, kebutuhan batubara PLN sepanjang 2026 mencapai 124 juta metrik ton.
Dari jumlah tersebut, 84 juta metrik ton berasal dari perusahaan pemegang PKP2B generasi pertama dan IUP BUMN yang tidak mengalami pemangkasan RKAB.
Sisanya, sekitar 40 juta metrik ton, masih akan diproses lebih lanjut dari perusahaan non-PKP2B dan non-BUMN yang terdampak penyesuaian RKAB.
“Yang bisa kontrak ini dulu. Setelah itu baru kita proses lagi yang 40 juta metrik ton,” jelasnya.
Baca Juga: Pemerintah Negosiasi Keluarkan Dua Kapal Pertamina dari Zona Konflik Timur Tengah
HOP 10 Hari Dinilai Stabil
Terkait Hari Operasi Pembangkit (HOP) yang sempat menyentuh 10 hari dari standar ideal 25 hari, Rizal menilai kondisi tersebut tidak serta-merta mengindikasikan krisis selama pasokan berjalan stabil.
“Kalau HOP 10 hari tapi stabil dan tidak terus turun, itu tidak masalah. Yang penting pasokannya stabil,” ujarnya.
Sebelumnya, Dewan Pengawas Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Joseph Pangalila menyebut, sebagian besar PLTU memiliki cadangan batubara di bawah 10 hari, bahkan di sistem Jawa-Bali hanya dua pembangkit yang memiliki cadangan 25 hari.
Menurut Joseph, kondisi ini sudah berlangsung sejak tahun lalu dan semakin memburuk dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Minyak Dunia Melonjak, Pemerintah Pastikan Harga BBM Pertalite Tetap Stabil
Perlu diketahui, kontribusi Independent Power Producer (IPP) terhadap pasokan listrik nasional saat ini mencapai hampir 50%.
PLN menilai tantangan pasokan di awal tahun umumnya dipengaruhi oleh faktor cuaca dan penyesuaian regulasi seperti RKAB.
Namun dengan pengamanan kontrak dari delapan pemasok utama, perseroan optimistis kebutuhan batubara hingga Agustus 2026 dapat terpenuhi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













