kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.648   -9,00   -0,05%
  • IDX 6.686   66,41   1,00%
  • KOMPAS100 876   10,37   1,20%
  • LQ45 665   8,72   1,33%
  • ISSI 233   2,03   0,88%
  • IDX30 371   4,34   1,18%
  • IDXHIDIV20 459   4,35   0,96%
  • IDX80 100   1,19   1,21%
  • IDXV30 127   1,36   1,08%
  • IDXQ30 119   1,15   0,98%

Produksi Gula Thailand Anjlok 17%, Pasokan Global Makin Terancam


Selasa, 08 September 2026 / 13:39 WIB
Produksi Gula Thailand Anjlok 17%, Pasokan Global Makin Terancam
ILUSTRASI. Konsumen membeli gula pasir di ritel modern di Tangsel (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produksi gula Thailand diproyeksikan turun setidaknya 17% pada musim produksi 2026–2027.

Melansir Bloomberg News pada Selasa (8/9/2026), penurunan produksi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap pasokan gula global di tengah kondisi cuaca kering yang melanda sejumlah negara produsen utama.

Rangsit Hiangrat, Direktur Asosiasi Thai Sugar Millers Corp., mengatakan produksi gula Thailand pada musim produksi yang dimulai Oktober 2026 diperkirakan berada di bawah 10 juta ton. Angka tersebut turun dari sekitar 12 juta ton pada musim sebelumnya.

Baca Juga: Jatuh Tempo November 2026, Begini Strategi Lautan Luas Lunasi Obligasi Rp135 Miliar

Thailand merupakan eksportir gula terbesar kedua di dunia. Penurunan produksi terjadi di tengah penguatan fenomena El Niño yang berpotensi memicu kondisi lebih kering di sejumlah wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Risiko pengetatan pasokan global turut mendorong kenaikan harga gula berjangka di New York. Harga kontrak gula tercatat melonjak lebih dari 20% pada bulan lalu, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak 2010.

Hiangrat mengatakan curah hujan di wilayah timur laut Thailand tahun ini tercatat lebih rendah dibandingkan wilayah lainnya. Padahal, wilayah tersebut berkontribusi sekitar 45% terhadap total produksi gula Thailand.

Selain faktor cuaca, harga singkong yang relatif lebih tinggi juga berpotensi mendorong petani di wilayah tersebut mengalihkan lahan ke komoditas lain.

Tekanan pasokan juga muncul dari India yang merupakan salah satu produsen gula utama dunia. Curah hujan selama musim monsun yang berakhir bulan ini tercatat berada di bawah level normal.

International Sugar Organization (ISO) memperkirakan pasar gula global akan mengalami defisit sekitar 260.000 ton pada musim mendatang. ISO juga menyoroti potensi dampak El Niño terhadap hasil panen tebu di kawasan Asia.

Berdasarkan data Thai Sugar Millers Corp., produksi gula Thailand pernah mencapai puncaknya pada musim 2017–2018 dan 2018–2019, yakni lebih dari 14,5 juta ton.

Namun, produksi setelah periode tersebut cenderung lebih rendah. Hiangrat menyebut produksi gula Thailand biasanya berada di kisaran rata-rata 10 juta ton per tahun, dengan kebutuhan bahan baku sekitar 90 juta–100 juta ton tebu.

Baca Juga: Lautan Luas (LTLS) Perkuat Bisnis F&B, Tambah Kapasitas Produksi Liquid 40.000 KL

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×