Reporter: Filemon Agung | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina memastikan realisasi produksi minyak pada aset luar negeri selama semester I 2019 baru mencapai 88% dari target yang dicanangkan. Persentase ini setara 99.930 barel per hari (bph) dari target sebesar 112.000 bph.
Angka ini sejatinya turun dari target semula sebesar 160.000 bph. Direktur Hulu Pertamina yang ditemui kala menghadiri IPA Convention & Exhibition 2019 mengungkapkan, realisasi yang belum tercapai diakibatkan kendala pada lapangan minyak milik Pertamina di Algeria.
Baca Juga: Menteri ESDM Ignasius Jonan minta Pertamina gencarkan eksplorasi
Adapun, realisasi produksi gas mencapai 261 juta kaki kubik per hari (mmscfd) dimana hasil tersebut sebagian langsung dijual oleh Pertamina. Pertamina menargetkan produksi gas dapat mencapai 300 mmscfd.
"Adanya problem kompresor di Algeria, tapi sudah online sekarang, untuk minyak yang 98,56 ribu bph dan gas 261 mmscfd, sebagian langsung jual sebagian diinjek lagi untuk maintain presence," ungkap Dharmawan.
Asal tahu saja, realisasi ini tidak lebih baik dari capaian Pertamina pada tahun lalu dimana rata-rata produksi minyak sebesar 102 ribu bph dan gas sebesar 299 mmscfd.
Baca Juga: Jonan tekankan pentingnya efisiensi KKKS dalam investasi migas
Sebelumnya, manajemen PT Pertamina International EP (PIEP) sendiri optimistis target produksi 2019 bisa tercapai. Keyakinan itu berkaca pada pencapaian tahun lalu, dimana produksi minyak PIEP di sepanjang 2018 mencapai 102.000 bopd dan produksi gas sebesar 299 mmscfd.
"Kami memiliki lapangan di Aljazair, Malaysia, Irak, Gabon, Tanzania. Sementara yang dibawa ke Indonesia minyak produksi dari Aljazair dan Malaysia," kata Denie Tampubolon selaku Presiden Direktur PT PIEP.
Baca Juga: Masuk semester II, pengeboran Pertamina baru 36,93% dari target
Pertamina menargetkan ditahun 2019 dapat mengangkut 7 juta barel hasil produksi minyak ke dalam negeri. Angka ini turun dari target semula sebanyak 8 juta barel. Menanggapi hal itu, Dharmawan mengungkapkan, perbedaan jenis crude dan tidak seluruhnya merupakan entitlement Pertamina menjadi alasan terjadi penurunan target.
"Sistem dan jenis crude yang dapat diolah kilang Pertamina berbeda," terang Dharmawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News