kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Produsen karet bertambah, harga karet mengkerut


Rabu, 07 Mei 2014 / 15:10 WIB
Produsen karet bertambah, harga karet mengkerut
Plang nama titik lokasi pembangunan Istana Presiden di IKN


Reporter: Handoyo | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Tiga tahun terakhir harga karet internasional tidak kunjung membaik. Bahkan memasuki paruh tahun ini harga karet terpuruk bahkan anjlok hingga ke titik terendah. Mengutip Bloomberg, harga karet di bursa Tokyo Commodity Exchange (Tocomm) untuk pengiriman bulan Mei hanya berada dikisaran US$ 1,95 per kilogram (kg).

Tentu saja, dengan kondisi ini mengakibatkan harga jual karet dari petani lokal semakin tertekan. Saat ini harga karet ditingkat petani hanya sekitar Rp 5.000 per kg-Rp 6.000 per kg. Harga ini jauh dibawah tahun 2010-2011 lalu yang lebih dari Rp 20.000 per kg.

Daud Husni Bastari, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) mengatakan, anjloknya harga karet internasional tersebut disebabkan tidak seimbangnya antara suplai dengan permintaan. "Pertumbuhan disektor industri (otomotif) kalah cepat dengan pertumbuhan produksi karet," kata Daud, Rabu (7/5).

Melonjaknya suplai karet dunia tersebut tidak lain disebabkan oleh banyaknya negara pendatang baru yang menanam karet. Sekedar informasi saja, beberapa negara penghasil karet baru tersebut antara lain Vietnam, Kamboja, Laos dan Myanmar.

Produksi karet dari negara-negara pendatang baru tersebut cukup besar. Daud mencontohkan, saat ini produksi karet di Vietnam saja sudah mencapai 1 juta ton per tahun. "Sekarang Myanmar besar-besaran menanam karet. Dan semua yang berinvestasi (karet) di Laos dan Myanmar merupakan pengusaha dari negara pemakai (karet)," kata Daud.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×