kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

REI: Bisnis Properti Melambat, tapi Potensinya Masih Sangat Besar


Jumat, 11 Juli 2025 / 17:29 WIB
REI: Bisnis Properti Melambat, tapi Potensinya Masih Sangat Besar
ILUSTRASI. Real Estate Indonesia (REI) mengakui kinerja sektor properti tengah mengalami perlambatanyang bukan hanya terjadi di sektor properti. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Real Estate Indonesia (REI) mengakui kinerja sektor properti tengah mengalami perlambatan. Namun, kondisi ini menurutnya bukan hanya terjadi di sektor properti, melainkan hampir di semua lini industri.

“Ya memang saat ini penjualan properti relatif melambat. Tapi bukan hanya sektor properti, ini terjadi di semua sektor. Bahkan secara nasional, pertumbuhan ekonomi terlihat menurun dari 8,5% ke sekitar 5%,” ujar Wakil Ketua Umum DPP REI, Bambang Ekajaya kepada Kontan, Jumat (11/7).

Ia menambahkan, situasi global pun turut memperburuk kondisi ekonomi saat ini dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi di berbagai sektor. 

Baca Juga: REI Dorong Peningkatan Kompetensi Pengembang di Jawa Timur

“Di dunia juga sedang gonjang-ganjing. Tiga perang belum selesai, sekarang ditambah perang dagang yang dilakukan pemerintahan Trump ke seluruh dunia, termasuk Indonesia,” ujarnya. 

Bambang menyebut, produk asal Indonesia dikenai bea masuk hingga 32% dan berpotensi bertambah 10% karena status Indonesia sebagai anggota BRICS.

Meski demikian, Bambang tetap optimistis terhadap prospek industri properti di Tanah Air, terutama untuk segmen hunian baik landed house maupun vertikal. 

“Kami yakin potensi properti tetap besar. Backlog perumahan menurut BPS mencapai 15 juta unit. Ini mencerminkan potensi pasar yang sangat besar, terutama untuk rumah subsidi yang tetap menjanjikan,” katanya.

Baca Juga: REI Kritik Rencana Kenaikan Pajak Rumah Tapak di Tengah Lesunya Daya Beli Masyarakat

Optimisme REI juga didorong oleh program pembangunan 3 juta rumah per tahun yang dicanangkan pemerintahan Prabowo-Gibran. Menurut Bambang, selama dukungan pemerintah tetap berjalan, pasar properti akan tetap eksis dan bertumbuh.

“Sebagai salah satu dari tiga kebutuhan pokok selain pangan dan sandang, papan atau perumahan merupakan kewajiban negara untuk memenuhinya. Dengan dukungan fasilitas KPR Subsidi FLPP yang tahun ini mencapai 420 ribu unit, serta program PPN DTP untuk properti komersial non-subsidi, kami yakin sektor properti tetap bisa tumbuh,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×