Reporter: Noverius Laoli | Editor: Hendra Gunawan
PEKANBARU. PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) berupaya menyelaraskan jumlah hutan tanaman yang berasal dari lahan yang tidak produktif serta dari hutan alam. Petrus Gunarso, Sustainability Director RAPP, mengatakan, untuk menerapkan langkah tersebut, perusahaan itu melakukan pendekatan bentang alam dalam mengelola hutan tetap lestari.
Dengan menggunakan pendekatan itu, hutan tanaman dikembangkan pada areal yang tidak produktif. Sementara hutan alam yang bernilai tinggi tetap dipertahankan.
Selain itu, ada juga lahan konsesi resmi yang dikelola oleh masyarakat. "Saat ini kami sudah mengonversi tidak kurang dari 250.000 hektare (ha). Sementara 70.000 ha lainnya bersama masyarakat," katanya, Kamis (22/1).
Berdasarkan kebijakan tersebut, Riau Andalan berharap komposisi antara hutan konservasi dengan hutan tanaman bisa menjadi 1:1. Artinya, luas areal hutan tanaman nanti bisa mencapai 480.000 hektare. Namun, Petrus tidak merinci kapan target tersebut bisa terealisasi.
Yang jelas, perusahaan ini sudah mewaspadai bencana yang kerap terjadi di hutan Sumatra seperti Riau, yakni kebakaran hutan di lahan gambut. Untuk mengantisipasi ancaman kebakaran, Riau Andalan sudah mengalokasikan dana hingga US$ 8 juta. Dana itu digunakan untuk penerapan teknologi ekohidro atau pengelolaan air.
Saat ini, produksi bubur kayu RAPP mencapai 2,6 juta ton per tahun dan 820.000 ton kertas per tahun.
Menurut Petrus, Riau Andalan menilai pelestarian hutan lestari teramat penting. Apalagi, Indonesia memiliki lahan yang potensial untuk dikembangkan sebagai hutan tanaman industri.
Saat ini, dari luas hutan produksi sekitar 74 juta hektare, baru 34 juta hektare yang memiliki izin pengelolaan. "Berarti ada potensi 40 juta hektare lahan yang belum dikelola. Jika lahan itu dikelola menjadi hutan tanaman, jelas lebih baik," kata dia.
Apalagi, Indonesia punya potensi menjadi pemain utama di industri berbasis kayu tanaman karena beriklim tropis yang membuat pohon cepat matang. Ia mencontohkan pohon akasia dan ekaliptus bisa dipanen dalam tempo lima tahun. Tapi di negara sub tropis bisa 40 tahun.
Saat ini, Indonesia sudah sanggup mengekspor pulp dan kertas senilai US$ 6 miliar per tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













