Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah terus mempercepat kemandirian energi dengan rencana penerapan kebijakan B50 atau campuran 50% minyak sawit ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai 1 Juli mendatang.
Langkah ini diproyeksikan bakal memperkuat posisi pasokan bahan bakar domestik tanpa bergantung pada pasar luar negeri.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Saleh Abdurrahman mengatakan kebijakan ini bakal efektif menekan ketergantungan pada impor solar. Menurutnya, kapasitas produksi di dalam negeri saat ini sudah berada dalam level yang mumpuni untuk mendukung kebijakan tersebut.
"Seperti yang disampaikan Menteri ESDM bahwa produksi solar domestik dan campuran FAME (Fatty Acid Methyl Ester) 40% sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik," ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (12/4/2026).
Di sisi lain, kebijakan ini diprediksi bakal mengerek harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar global dalam jangka pendek. Saleh menilai kenaikan harga tersebut justru memberikan keuntungan bagi ketahanan dana perkebunan di dalam negeri melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Baca Juga: Incar Masa Depan Otomotif, Inchcape Fokus Bangun Pabrik Jangka Panjang
"Kenaikan harga CPO akan memberi pendapatan tambahan untuk BPDP yang juga digunakan untuk insentif harga biodiesel domestik jika harga FAME lebih tinggi dari solar," jelas Saleh.
Lebih lanjut, Saleh menambahkan, terkait kekhawatiran penurunan devisa akibat berkurangnya ekspor CPO, dia berharap peningkatan produktivitas menjadi kunci. Pemerintah menargetkan keseimbangan antara pasokan untuk kebutuhan industri dalam negeri dan tetap mempertahankan porsi ekspor.
"Harapan kita tentu produksi CPO meningkat secara berkelanjutan khususnya melalui peningkatan produktivitas CPO/hektare (ha) sehingga memberikan devisa yang besar sekaligus memenuhi kebutuhan domestik," ujarnya.
Untuk diketahui, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa uji coba B50 atau bahan bakar lewat pencampuran minyak sawit ke dalam solar kini sudah menunjukkan hasil yang signifikan.
Bahlil mengungkapkan, saat ini progres uji coba telah menyentuh angka 60% hingga 70%. Uji coba ini dilakukan secara komprehensif pada berbagai moda transportasi dan mesin industri untuk memastikan keandalan bahan bakar nabati tersebut sebelum diluncurkan secara massal.
"Jadi, saya sampaikan bahwa hasil uji coba terhadap B50 sekarang sudah ke arah 60%-70%. Uji coba dilakukan di alat-alat berat, di kereta api, di kapal maupun di mobil. Insya Allah, bulan Mei, Juni hasil akhirnya sudah selesai dan akan diterapkan di 1 Juli," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Baca Juga: RUU Migas Digodok, Ekonom Ingatkan Tata Kelola BUK Migas dan Risiko Beban Fiskal
Bahlil menuturkan, penerapan B50 ini diklaim sebagai strategi "survival mode" pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Menurutnya, kebijakan ini diambil agar Indonesia memiliki kedaulatan penuh dan tidak terus-menerus didikte oleh fluktuasi harga maupun pasokan energi global, khususnya untuk komoditas solar.
"Ini sudah menjadi kebijakan negara, ini survival mode. Supaya kita tidak tergantung pada global terhadap BBM kita, khususnya untuk solar," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa fokus utama pemerintah adalah kemandirian energi, sehingga kebijakan ini akan tetap berjalan terlepas dari kondisi harga minyak dunia yang mungkin sedang stabil atau menurun.
Menanggapi kekhawatiran mengenai keterbatasan kapasitas pabrik, Bahlil memastikan pemerintah tengah melakukan langkah-langkah sinkronisasi. Meskipun belum merinci jumlah pabrik yang terlibat, ia optimistis kendala infrastruktur produksi dapat teratasi tepat waktu.
"Nah, terkait dengan pabrik yang tadi ditanyakan, kita terus melakukan penyesuaian. Tapi insya Allah sudah ada solusi kok. Nanti saya jelaskan begitu sudah selesai ya," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













