Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp 18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) semakin menekan industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Tingginya ketergantungan terhadap bahan baku, bahan penolong, hingga mesin impor membuat kenaikan kurs langsung membebani biaya produksi produsen.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Danang Girindrawardana mengatakan, struktur industri tekstil masih memiliki ketergantungan impor lebih dari 70%. Kondisi ini membuat pelemahan rupiah menjadi tekanan tambahan bagi harga pokok produksi (HPP).
Menurut Danang, untuk pabrik tekstil skala menengah dengan kandungan impor sekitar 60%, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan HPP sekitar 8%-12%.
Baca Juga: WEHA Maksimalkan Momentum Libur Akhir Tahun untuk Dongkrak Pendapatan
Ketergantungan impor tersebut antara lain berasal dari kapas yang hampir seluruhnya dipenuhi dari luar negeri, serta bahan baku lain seperti rayon staple, polyester chip, monoetilen glikol (MEG), paraxylene, pewarna, dan bahan kimia penolong. Selain itu, sekitar 90% kebutuhan mesin tenun, knitting, dan dyeing masih berasal dari impor.
"Industri tekstil dan produk tekstil adalah yang paling sensitif karena struktur impornya lebih dari 70%. Untuk pabrik menengah dengan import content 60%, kenaikan HPP langsung 8%-12%," ujar Danang kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).
Danang menjelaskan, pelemahan rupiah hingga Rp 18.100-Rp 18.184 per dolar AS per 28 Oktober 2026 telah menambah tekanan biaya produksi. Level tersebut mencerminkan pelemahan sekitar 8% secara year to date (YtD) 2026 dan 8,6% dibandingkan posisi tahun lalu.
Di sisi lain, produsen tekstil belum leluasa meneruskan seluruh kenaikan biaya tersebut ke harga jual. Menurut Danang, mayoritas pelaku industri masih menyerap kenaikan biaya karena daya beli masyarakat melemah dan konsumen semakin sensitif terhadap harga.
Persaingan dengan produk impor juga membatasi ruang kenaikan harga. Danang menyebut rasio impor produk jadi TPT meningkat dari sekitar 55% menjadi 83% dalam 10 tahun terakhir. Selain itu, kontrak dengan pembeli ritel maupun merek biasanya telah ditetapkan untuk periode tiga hingga enam bulan.
Akibatnya, tekanan biaya berpotensi menggerus margin bersih perusahaan. Danang memperkirakan margin yang sebelumnya berada di kisaran 5%-7% dapat terpangkas menjadi 0%-2%, bahkan berpotensi negatif.
Baca Juga: Rupiah Melemah 12,5%, Biaya Produksi Industri Serat dan Benang Ikut Membengkak
Perusahaan yang masih memiliki persediaan bahan baku lama mungkin masih dapat menahan tekanan selama satu hingga dua bulan. Namun, beban biaya akan semakin terasa ketika melakukan pengadaan ulang dengan kurs saat ini.
Jika rupiah bertahan di atas Rp 18.000 per dolar AS, Danang memperkirakan produsen berpotensi menaikkan harga jual sekitar 10%-15% pada kuartal I-2027. Namun, ruang penyesuaian harga tersebut tetap bergantung pada kondisi pasar dan kemampuan konsumen menyerap kenaikan.
Tekanan biaya juga berpotensi mempengaruhi aktivitas produksi. Danang menyebut utilisasi industri tekstil saat ini berada di bawah 55%, lebih rendah dibandingkan kondisi sebelumnya. Jika tekanan berlanjut, perusahaan berpotensi mengurangi jumlah shift produksi dari tiga shift menjadi dua shift, bahkan satu shift.
"Kalau kita lihat utilisasi tekstil sekarang sudah di bawah 55%. Dengan biaya naik, banyak yang menurunkan dari tiga shift menjadi dua shift atau bahkan satu shift," kata Danang.
Dampak lanjutan yang dikhawatirkan adalah pengurangan jam kerja hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurut Danang, industri pakaian jadi mempekerjakan sekitar 3,76 juta pekerja, sedangkan industri alas kaki menyerap sekitar 921.000 pekerja.
Baca Juga: SKK Migas: Sumur BKT-061 Pertamina EP Capai Uji Produksi 2.765 BOPD
Karena itu, tekanan yang berkepanjangan dapat berdampak luas terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor padat karya.
Untuk menjaga keberlangsungan industri, Danang mendorong pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menyediakan fasilitas hedging valuta asing dengan biaya murah bagi industri padat karya.
Selain itu, ia mengusulkan penundaan pembayaran PPh impor bahan baku, pengetatan pengawasan impor ilegal, serta penurunan suku bunga kredit khusus bagi industri padat karya.
Danang menilai langkah tersebut diperlukan agar produsen memiliki ruang untuk menjaga arus kas dan mempertahankan operasional di tengah kenaikan biaya produksi. Tanpa dukungan kebijakan, pelemahan rupiah berisiko semakin menekan daya saing industri tekstil domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














