Reporter: Vina Elvira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten produsen wine, PT Hatten Bali Tbk (WINE), melihat prospek industri minuman beralkohol pada kuartal II-2026 masih cukup positif, meski dibayangi ketidakpastian global.
Direktur Keuangan WINE, Ketut Sumarwan menyampaikan tekanan geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, berdampak pada arus wisatawan dari Eropa. Namun, kondisi tersebut diimbangi oleh peningkatan wisatawan dari kawasan lain, seperti Australia dan Asia .
“Secara umum, kami melihat prospek bisnis pada kuartal II-2026 masih cukup positif walau banyak kekhawatiran pada kondisi global. Arus wisatawan dari benua Eropa memang terpengaruh,” ungkap Ketut kepada Kontan.co.id, Senin (6/4/2026).
Baca Juga: Regulasi Cukai Diperketat, Hatten Bali (WINE) Bidik Pertumbuhan Berkelanjutan di 2026
Selain faktor global, kinerja penjualan pada awal tahun juga dipengaruhi faktor musiman dan domestik. Penjualan tercatat cenderung stagnan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Hal ini disebabkan awal 2026 bertepatan dengan bulan puasa yang membuat terbatasnya distribusi dan jam operasional outlet pelanggan. Di sisi lain, faktor cuaca juga memengaruhi penjualan di outlet terbuka seperti beach club dan restoran.
Dari sisi produk, segmen white wine dan sparkling wine menjadi pendorong utama pertumbuhan karena dinilai sesuai dengan karakter pasar tropis.
Meskipun dibayangi tantangan global, manajemen melihat melihat prospek kinerja WINE ke depan masih positif.
Pihaknya optimistis penjualan dapat terus tumbuh, didukung oleh strategi perluasan pasar ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan beberapa wilayah lainnya di Indonesia.
Baca Juga: Hatten Bali (WINE) Siapkan Agenda Ekspansi Untuk Tahun 2026
WINE juga kini akan lebih fokus mengembangkan brand Dragonfly (sweet wine) dan Two Islands (bahan baku diimpor dari Australia) yang memiliki potensi besar untuk tumbuh di luar Bali.
“Selain itu, tahun ini kami berencana meluncurkan produk premium baru sebagai upaya memperkuat posisi kami di segmen pasar menengah ke atas,” sebutnya.
Di samping ketidakpastian kondisi global, tantangan utama industri minuman beralkohol yang dihadapi pasar domestik saat ini adalah meningkatnya produk impor dengan harga bersaing akibat kelebihan produksi di negara-negara produsen minumal beralkohol.
Maklumlah, secara global industri ini memang mengalami penurunan karena pola hidup lebih sehat dari generasi muda, terutama di negara-negara maju. Meski demikian, WINE tetap optimistis dengan peluang pertumbuhan di pasar pariwisata internasional dan pasar domestik yang masih terbuka dan menjanjikan.
Baca Juga: Hatten Bali (WINE) Siapkan Capex Rp 26 Miliar, Begini Prospek Akhir Tahun 2025
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













