kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.877   52,00   0,29%
  • IDX 6.471   69,00   1,08%
  • KOMPAS100 835   6,18   0,75%
  • LQ45 636   3,55   0,56%
  • ISSI 227   4,88   2,19%
  • IDX30 355   1,72   0,49%
  • IDXHIDIV20 432   1,94   0,45%
  • IDX80 95   0,63   0,66%
  • IDXV30 120   1,06   0,90%
  • IDXQ30 113   0,63   0,56%

Sedang terpuruk, pemerintah akan bantu Garuda Indonesia (GIAA) restrukturisasi utang


Rabu, 26 Mei 2021 / 19:00 WIB
ILUSTRASI. Pekerja membongkar muat kargo dari pesawat Garuda Indonesia setibanya di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM). ANTARA FOTO/Ampelsa/wsj.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi

"Misalnya bagi hasil atau mungkin ada hal-hal lain. Kuncinya kesamaan untuk mencari solusi," sambungnya.

Selain mengurangi beban dan menekan biaya, Garuda juga dituntut untuk bisa mendongrak cash flow agar bisa di level positif. Artinya, pendapatan harus dikerek naik. Tak hanya memperbesar pendapatan dari segmen non-tiket, Alvin menyarankan agar Garuda lebih selektif dalam memilih rute penerbangan.

Dampak ke industri penunjang

Tak cukup hanya memilih rute penerbangan yang menguntungkan, penggunaan pesawat juga dituntut untuk rasional. 

"Seperti Jakarta-Jogja yang jaraknya dekat dan penumpang tidak banyak, jangan menggunakan Airbus 330 karena load factor-nya tidak akan masuk," sambung Alvin.

Langkah serupa juga perlu dilakukan oleh maskapai pesawat lainnya yang sedang terseok-seok terhempas covid-19. Sebab, ambruknya perusahaan maskapai bisa membawa dampak terhadap industri penunjang. Seperti perawatan pesawat, catering dan pengelolaan bandara.

Alvin memberikan gambaran, pada perusahaan catering penerbangan misalnya, penghasilan sudah anjlok menjadi hanya tinggal 30% dari kondisi normal. Jasa layanan navigasi juga ikut terjepit lantaran keterlambatan pembayaran.

"Industri penunjang semuanya sudah terdampak, dan sudah melakukan rasionalisasi, efisiensi, bahkan mengurangi kegiatan bisnis," ungkap Alvin.

Untuk jasa tertentu seperti penyediaan catering pesawat, model bisnisnya lebih fleksibel lantaran masih bisa mengalihkan supply ke perusahaan atau industri lain. Namun untuk jasa lainnya seperti perawatan pesawat, pergeseran bisnis sulit dilakukan.

"Kan tidak bisa serta merta beralih dari perawatan pesawat ke perawatan mobil atau motor. Bandara juga sulit, bukan saja dari sisi pendapatan turun, tenant-tenant juga banyak yang tutup karena sepi penumpang," pungkas Alvin.

Selanjutnya: Ditawari pensiun dini, begini respons serikat karyawan Garuda Indonesia (GIAA)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×